Tampilkan postingan dengan label Life Events. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Events. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2023

Teriknya Semarang

Perjalanan tiga hari itu bermula di salah satu jalan ter-sibuk di Jogja. Kami, yang baru menikah tepat tiga minggu, duduk-duduk sambil menyesap kopi overpriced di sebuah kedai kopi. Sepasang suami istri yang pernikahannya sudah seribu kali lebih lama dari kami, berhenti persis di depan kedai. Kami keluar membawa gelas plastik masing-masing yang masih ada setengah isinya, lalu masuk ke mobil. 

Kami tiba di kota yang naik-turun tanahnya memabukkan, lalu terlelap di dua kamar hotel bintang dua yang bau apaknya tak kunjung hilang. Paginya, kami yang baru menikah, cek darah, paru-paru dan mata di rumah sakit demi diijinkan masuk ke Australia bulan depan. Lalu, kamidua pasang suami istrilapar, sarapan dan jalan-jalan. 

Suami istri yang lebih tua—masing-masing setengah abad usianya itumengikik sambil saling cubit. Kami—yang lebih muda setengahnyaikut mengikik, menonton mereka sembari berfoto ribuan kali. Suami istri itu bukan orangtuaku—bukan nama mereka yang ada di akta kelahirankutapi mereka mengirimkan kado pernikahan yang diiringi sepucuk ucapan berawalan, 

"Untuk, anakku sayang." 

Ucapan singkat, tapi menyebabkan air mata berhamburan. Ucapan itu kini bersemayam di dompet kelabu yang kudapat dari suvenir pernikahan orang lain, bersama ucapan-ucapan lainnya yang kuterima pada pernikahan kami. 


Siang itu, kami jalan-jalan di kota terlama se-Semarang. Makan es krim 8.000-an, menelusuri troto
ar di bawah terik, tanya-tanya polisi pariwisata perihal titik ter-instagrammable, lihat-lihat isi gereja termegah, lalu berteduh di kedai kopi untuk minum es teh leci dan makan pisang goreng. Setelah terik agak tidak terlalu terik, pasangan itu meninggalkan kami yang muda di tepi jalan. Mereka ingin melanjutkan perjalanan ke kota lain, begitu pula dengan kami. 

Diam-diam kami bahagia dan memanjatkan puji syukur, tapi sudah cukup saling tau, jadi tak saling bicara soal itu. Mereka menjauh dan menghilang ke selatan, kami menunggu perjalanan selanjutnya ke timur. Kami akan berpisah sebentar dan akan bertemu lagi saat sudah sama-sama pulang nanti. 

Mereka akan ada di sana, tepat dimana aku menemui mereka pertama kali: saat usiaku tiga atau empat, berduaan dengan adikku yang masih belum banyak rambutnya, bernyanyi di depan cermin pada hari pernikahan mereka. Hampir dua puluh lima tahun yang lalu. Apa yang kami senandungkan kala itu bahkan otak bocah kami tak bisa ingat. 

Namun, pada siang terik itu, setelah beberapa tawa yang pecah akibat lelucon di sepanjang jalan dan beberapa tawa lainnya di sudut gedung terbengkalai di Kota Lama, kami tau kami sama-sama akan mengingat hari ini dan saling puji. Betapa hebat dan hangat hadirnya kami bagi satu sama lain. Kota Lama dengan segala kemegahannya pun mengangguk setuju khidmat, telah disaksikannya kelimpahan sayang, tawa, dan nikmat yang kami tukar. 

"Makasih, Om dan Tante," begitu ujarku sambil menyalimi mereka, sebelum kami berpisah. 

Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk segala sayang dan hangat yang menyertai hadirnya mereka sejak kami pertama bertemu.

"Hati-hati di jalan," tambahku.

Teriknya Kota Semarang dan seisinya pun mengamini, turut mendoakan keselamatan bagi mereka. 

17 Agustus 2023

Agustus

Agustus itu kami saling kenal. Dia duduk paling belakang, aku paling depan. Kami bercampur aduk dengan sekian puluh kepala lain, menghadap papan tulis yang sama dan pengajar paruh baya yang sama. 

Suatu malam, aku mendapatkan pesan sok akrab dari seseorang yang grup WhatsApp-nya sama denganku. Kulihat dia punya foto profil sok misterius, tapi punya ajakan yang cukup menggiurkan. 

"Ke sini yok," katanya tanpa preambul, diiringi sebuah foto poster pameran buku.  

Malamnya, dia muncul di jalan gang depan kosku. Aku muncul dari balik pagar membawa helm dan jaket merah. Kami tiba di pameran buku berduaan, seperti muda mudi pada umumnya yang sama-sama suka buku tapi belum tentu punya uang untuk beli buku. 

Selain pameran, kami mampir makan ke macam-macam tempat, termasuk ke kantin sekolah tempat kami makan bersama teman-teman sekolah yang lambat laun menyadari ada sesuatu di antara dua manusia ini.  


"Aku nggak mau nikah," ujarku padanya. 

Kami sudah jadi pasangan kekasih. Sudah setahun sejak sekolah kami tutup akibat virus dan aku pindah sekolah. Kami sudah jadi pasangan beberapa bulan setelah Agustus itu. Kawan-kawan kami pulang ke kampung masing-masing, meninggalkan kantin tempat kami sekelas tadinya menguasai sederet dua deret meja panjang hanya untuk makan sepuluh menit dan ngobrol tiga puluh menit. 

Dia mengangguk, bilang bahwa dia pun begitu. Tidak ada minat untuk menikah. 

"Yang," panggilnya saat kami sarapan di Flamboyan, hanya dua minggu sebelum Agustus. 

Bukan. 

Bukan Agustus yang itu, tapi Agustus yang ini. Tidak ada lagi virus, kami semua sudah lepas masker. Kawan-kawan kami sudah lulus. Dia sudah lulus dan dapat pekerjaan impiannya. Aku lulus awal tahun di sekolahku yang baru. Dia tunjukkan layar ponselnya ke depan wajahku. 

Sumpah mati jantungku berlompatan dari tempatnya bersarang. Isi layar itu biang keroknya: pengumuman beasiswa di negeri orang dengan kata 'selamat' dan nama kekasihku. Hurufnya kapital, besar-besar, mustahil salah lihat. 

"Jadi?" tanyaku terbata. Bukannya aku tidak tahu, tapi rasanya terlalu sulit berpikir. "Kita jadi nikah?"

Dia mengangguk sambil masih menatap layar yang sama, kehabisan kata-kata.

Empat Agustus, kami duduk bersebelahan, masing-masing tanda tangan di buku yang nama kami ditulis di dalamnya dan diakui negara bahwa pernikahan telah dilangsungkan terhadap kami. 

Agustus ini, kami akui bahwa kami tidak tahu apa-apa. Bertemunya kami dengan satu sama lain membawa kami pada keputusan-keputusan yang kami pada Agustus-agustus lalu tidak berminat untuk putuskan. Mulai Agustus ini, mungkin kami tidak tahu apa lagi yang akan kami "tiba-tiba" putuskan pada Agustus-agustus depan. 

Namun setidaknya, satu yang kami tahu, 

bahwa kami sudah satu. 

Seiring disalaminya kami oleh para tamu di pelaminan, terselip doa dari setiap semoga yang diucapkan para tamu, "semoga tuntung pandang." Belakangan, ibu bilang bahwa artinya "semoga sampai selesai". 

Kupandangi lelaki misterius yang katanya sudah jadi suamiku itu. Setelannya necis, peluhnya menitik, wajahnya asing sekaligus akrab, senyumnya canggung sekaligus menular. Kusinggungkan senyum yang sama padanya. Diam-diam kuamini sungguh-sungguh doa-doa dari para tamu. 

"Tolong jaga kami tetap satu hingga akhir," bisikku entah pada siapa. 

Sekuat tenaga kutahan gelombang panas dikedua ujung mataku. Suamiku tersenyum padaku. Istrinya ini pun tersenyum padanya. Kami saling tahu sesuatu di ulu hati kami sama-sama menghangat.  

"Terimakasih," batinku padanya. "Terimakasih telah datang ke hidupku."

Dia mengangguk seolah mendengarku. Tangan kami berpagut. 

Para tamu menyalami dan kami pun berfoto bersama. 

8 Juli 2021

Untuk Gina

Seorang kawan kehilangan ibunya. Tadi malam ia mengirim pesan singkat-singkat di grup, mengabari bahwa ibunya kritis. Kuduga saat itu ia duduk di dekat ibunya, menangis tersedu-sedu bersama keluarganya, sambil gemetar menggenggam ponselnya. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia memberi kabar pada kami. Kubaca pesannya berkali-kali. 

Ibu nggak ada. Mohon doanya.

Tak berubah. Kecuali, kata-kata nggak ada punya makna lain. Tapi tidak kutemukan makna lain. Maknanya sama, hilang, tidak di sini, tidak dalam keberadaan, dan tidak-tidak yang lain. Untuk sepersekian detik aku masih menyangkal bahwa dua kata itu hanya itu maknanya, sebelum kemudian kuketik kata-kata bertubi-tubi menunjukkan belasungkawa, beberapa detik ragu, kubaca lagi pesannya, kucari lagi maknanya, kuhapus pesanku. 

Seorang kawan terlebih dulu mengirimkan belasungkawanya. Mau tak mau aku harus percaya makna dua kata itu. Si kawan itu memaknainya serupa. Kutulis lagi pesanku, lalu kukirimkan.
 
Selepas itu, aku tidak bisa bicara lagi, tak bisa menambah pesan-pesan penyemangat lagi. Kawanku baru saja kehilangan ibunya. Ia tidak butuh pesan-pesan penyemangat. Ia butuh berbelasungkawa, ia butuh bersedih, menangis sepilu-pilunya, memeluk tubuh ibunya yang masih hangat, dan menerima semuanya sambil menyangkal semuanya. 

Aku tiduran di ranjang, menerawang ke luar jendela, malam yang hening dan sunyi di sini. Kulihat ia ada di sana, di malam yang berbeda, yang panjang dan pilu, yang jauh dari hening dan sunyi. 

Pukul 22.00

Setengah jam setelah kuterima pesan dukanya. 

Esok ia akan bangun dan menangis. 

Ibu nggak ada. 

Ia akan mengulang itu pada dirinya sendiri. 

Lusa, ia akan bangun, membisikkan hal yang sama. Lama ia akan bangun tidur begitu. Ia akan menerima dan menyangkal. Namun, ia percaya Tuhan telah mendekap ibunya. Tuhan telah membawa ibunya pada kehangatan yang telah ia dan keluarganya berikan. 

Ia tahu hari-hari selanjutnya mungkin akan sama memilukannya dengan hari ini, tapi mungkin pada hari-hari selanjutnya ialah yang akan semakin kuat.

19 April 2021

Mati Lampu

Waktu itu mati lampu. Sudah tiga jam tapi tidak kunjung menyala. Dengar-dengar akan sampai lima jam bahkan lebih. Batrai ponselku tidak mau hidup kalau pengisi dayanya tidak stand by. Lampu darurat yang dibelikan Ibu saat awal-awal kuliah 2013 dulu, meski sudah diisi dayanya penuh, cepat sekali redupnya lalu mati. Sumber penerangan hanya lampu darurat dari ruang televisi. Aku tidak bisa ngapa-ngapain. Batrai laptop sudah kuhabiskan untuk menulis pos ke blog ini. Itu pun mencuri internet dari  wifi asrama belakang yang sejak bangunan itu berdiri tidak pernah ikut mati lampu.

Aku cari-cari buku-buku dari rak di bawah meja. Mana tahu ada yang belum kuselesaikan, yang ternyata hampir semua. Kuambil satu novel Jane Eyre yang kupinjam entah sejak kapan dari kekasihku. Tidak kuselesaikan dan tidak kusentuh lagi entah sejak kapan. Kubuka lagi buku itu, kutarik satu kursi lesehan di ruang televisi dan kududuk di sana membaca. Aku membaca begitu saja. Tujuh puluh persen dengan Bahasa Inggris yang tidak kumengerti maknanya, tetapi aku tetap membaca, toh aku tidak bisa ngapa-ngapain juga. 

Kadang aku membaca dengan pikiran yang ikut terseret suara hujan, kadang aku membaca dengan pikiran, "apakah ada hantu di tempat ini? apakah ada pohon tumbang di suatu tempat yang jauh?", kadang aku bahkan lupa aku sedang membaca saking jauhnya pikiranku terseret. Namun, setelah beberapa lama, setelah hujan agak reda dan agak lebih banyak paragraf yang kubaca, aku sampai pada fase menikmati bacaanku. 

Ceritanya ada kebakaran di tempat Jane Eyre tinggal, yang aku bahkan tak tahu ia tinggal dimana, saking payahnya kosakata Bahasa Inggrisku. Jane diminta oleh Tuan untuk tidak memberitahu perihal kebakaran tersebut kepada pelayan-pelayan yang lain. 

Begitu ceritanya. 

Aku menikmati bacaanku bahkan berjam-jam dan satu dua hari setelah lampu tidak lagi mati. Aku sempat kembali pada dunia di depan layar ponsel dan laptop beberapa saat setelah lampu nyala, tetapi aku kembali pada buku itu. 

Tiba-tiba aku rindu pada duniaku yang tenang dan minim pilihan. Aku rindu tidak bisa ngapa-ngapain dan membaca buku fisik dengan Bahasa Inggris abad ke-17 adalah satu-satunya pilihan. Aku rindu tidak perlu menonton apa-apa, tidak perlu membalas pesan apa-apa, tidak perlu apa pun selain memasak Indomie goreng  pakai telur sambil sesekali kembali ke buku bacaan. Hanya diam, baca buku sambil sesekali mengunyah, meski tidak mengerti apa-apa dari yang kubaca. 

Aku rindu mati lampu. 

Aku pun diam-diam mengharapkan mati lampu mati lampu yang lain lagi.  

Akhirnya aku membeli Kindle :)



24 Agustus 2020

The day we met

Nothing unusual on the first day we met. No sparks. No blossoms. No blushes. Nothing.

It was a sunny day in August last year. I wore my ordinary outfit, I didn’t notice what he wore, but I'm pretty sure he wore something ordinary too. It was our first day in the class. As how new things are, everything makes me excited. The new friends, new lecturers, new classroom, new subjects, the new everything. 

It was in the central library that I noticed him for the first time. He sat in the back, by himself, mentioning book titles to the librarian way in the front of the room. No one responded as no one caught his low voice. I am low-voiced myself and I know how it feels to not be listened to just because your voice is not loud enough.

Days later after the library trip, in the classroom, we were grouped together and that was how I knew his name. 

But nothing unusual on the first time we say each other’s names. No tensions. No thrills. No anticipations. Nothing. 

My days in the class didn’t last long. So did his and my other classmates’. They had to stop having real classes due to the pandemic, but for me, it was because I decided to leave. I leave the new class, new friends, new lecturers, new subjects, the new everything. They now become my old everything.

But above them all, one stays. 

He stays. 

Here’s when things become unusual. 

.

23 Agustus 2020

Berhenti

Malam itu malam pertamaku di tempat yang baru dan aku menangis. Ada Ibu menari di langit-langit, dua bocah mengelilingi tubuhnya minta peluk dan makan. 

Kemarin aku diantar kemari dengan truk bak terbuka. Barang-barangku penuh di bak, sepeda motorku yang merah jambu bersorak-sorai meski diikat kanan kirinya, aku duduk di muka. 

Bocah-bocah yang kelaparan itu menyukai kegelapan. Mereka hadir setiap kumatikan lampu kamarku. Kamarku yang baru. Kamarku yang temboknya putih, lantainya putih, jendelanya putih, pintunya putih, dan puskesmas di seberang kamar yang juga putih-putih. Aku bisa demam pagi sampai siang tanpa khawatir karena bisa langsung melarikan diriku sendiri ke sana. Lain cerita kalau demamnya datang malam-malam, terutama saat bocah-bocah itu datang bersama Ibu. Tidak ada puskesmas yang buka malam-malam. 

Sekian malam berikutnya aku masih menangis sambil terlentang. Kamarku tidak lagi baru, sudah ada satu dua tiga empat lima orang yang datang. Hanya satu yang perempuan. Sisanya lelaki minta ditemani makan, nonton film, dan jalan-jalan. 

Lagi-lagi aku kedatangan Ibu dan dua bocah, tapi mereka tidak lagi menari-nari di langit-langit, mereka duduk saja di tepi ranjangku yang baru, yang masih dibungkus plastik. 

"Aku ingin berhenti. Aku ingin pulang," kukatakan lirih.  

Manik mata mereka yang putih mungil membeku. Mereka tidak setuju. Mereka tidak ingin aku berhenti. Ibu beranjak dari tepi ranjang, duduk di kursi belakang meja belajarku, ia bicara, berbisik, sendu, "Ingat dulu Ibu seorang diri membesarkan kalian? Ingat dulu kita tinggal di tempat yang terlalu sempit untuk kalian lari-lari? Kalian senang berlari. Ibu ingat betul." Ibu berhenti, terkekeh sebentar. 

"Aku bodoh, Bu. Aku gagal. Aku tidak bisa. Aku tidak seperti teman-temanku, Bu. Mereka cemerlang, mereka bicara lantang di kelas, mereka menulis sepenuh hati, mereka akan jadi pengajar, advokat, pendeta, orang penting, orang berilmu dan terpandang. Aku tidak, Bu. Aku tidak bisa menulis, tidak bisa membaca, tidak bisa bicara, tidak punya teman. 

"Aku bodoh, Bu. Aku gagal. Aku gagal menjadi kebanggaanmu, aku gagal menjadi contoh bagi adik-adikku. Biarkan aku pulang dan menjadi pesuruhmu, Bu. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat diriku berguna, Bu. Tapi bukan di sini. Ini bukan tempatku, Bu. Aku bodoh, Bu. Aku gagal.." Aku tercekat. Kata-kataku mengambang. 

"Kaki dan tanganku tidak sekuat Ibu. Hatiku tidak setangguh Ibu. Aku tidak seperti Ibu."

Enam belas tahun yang lalu. Dua bocah perempuan. Baju mereka sama, rok mereka sama hanya beda warna, sepatu pun sama hanya beda ukuran. Ibu mereka ada di sana. Ayah mereka tidak di sana. Ayah mereka memang tidak pernah di sana. Ayah tidak pernah ada dimana-mana. Ayah menyerah pada Ibu. Ayah menyerah pada dua bocahnya. Tapi Ibu tidak. Ia tetap tegak berdiri di sana, dengan dua bocah yang menggelayut di kedua kakinya. Memberati langkahnya, menghabisi tenaganya, tapi pengharapannya tetap tegak sempurna.

"Anak Ibu pintar. Anak Ibu selalu bisa. Tidak pernah tidak." Setetes, dua tetes, tiga tetes mengalir ke pipinya. "Ibu tidak tahu anak Ibu kesusahan. Ibu tidak pernah melihat anak Ibu begini. Ibu hanya tahu anak Ibu yang rajin dan pintar. Oh, anakku.. anakku yang malang. Maafkan Ibu.. maafkan Ibu. Ibu tidak tahu anak Ibu kesusahan." 

Malam itu, delapan belas tahun yang lalu, aku terbangun. Adikku tidur pulas di sampingku. Tubuhnya sedikit lebih mungil dari aku. Rambutnya lebih sedikit dari aku. Ibu tidur di lantai, alasnya tipis, tidurnya terlentang, persis seperti tidurku delapan belas tahun kemudian. Kudengar Ibu tersedu. Tapi usiaku hanya empat tahun. Hidupku masih terlalu singkat untuk mengerti cara menangis dalam diam. 

"Baiklah, Anakku. Berhentilah, berhenti," ujar Ibu masih terisak.

Lalu aku berhenti. 

Berhenti.

.

19 Juni 2019

Watching Him Work

One new year eve, maybe when I was ten, I stood in silence behind my grandfather. He brought my story book, along with cans of paint and brushes. He opened the book and stopped on a page with picture of a boy and a girl wearing uniform. They walked to school, while waving their hands to their parents.

He took a pencil and started making rough lines on a white wall in front of him. He glanced back and forth between the book and the wall. It took me a while to realize that he was copying the boy and the girl on the book to the wall. I kept on watching him in silence, until I was too sleepy to stay awake and decided to go to bed.  

On the following morning, I looked at the wall and chuckled at it. There’re supposed to be little kids going to kindergarten, but my grandfather messed their faces up. He made them look way older than any five year olds.

They wore uniform with my grandfather’s favorite color: green. They smiled weirdly to their invisible parents. Their tangled fingers were holding colorful balloons.

The balloons say TK NU AL-ANSHAR.

The name of a school he built next door, over thirty years ago.  

On any other nights, I would find him doing another artsy projects for the school. Sometimes he repainted the chairs, sometimes he created hand-written sign boards, and sometimes he re-arranged the classrooms’ layout. When I wasn’t too sleepy, I would join him by watching silently and he would let me. At the following mornings, he would be sleeping and I would be awake, enjoying the master pieces he’s done during the night.

Until now, I still do love watching him work.  

It’s like he never stopped working. 

12 Juni 2019

Grandfather


Three days ago, on the day of the death of my grandfather, I sat still with my cousins in the living room, waiting for our turn to give our last kisses to his flowery-scented body.

My grandmother couldn’t move her feet due to her illness, she remain seated next to his coffin and cried out to him desperately. My youngest aunt burst into tears after her last kiss, my mother hugged her and said it was our turn: the grandchildren.

I moved closer to the shrouded body, kneeled by his side and touched his forehead with the tip of my nose. It was jasmine, rose, reminisce and all lively scents, as it is him who’s breathing out the flowers. I couldn’t think of a prayer for him. I couldn’t think of anything at all.

I was busy feeling his wrinkled skin to mine, inhaling his pheromone with all my strength, while trying so hard to hold back my tears from falling to him. I was being an egoic-head who’s craving for his body. The body that made my existence possible, the body where my blood and vein were rooted.

I went back to my spot, covered my red-face with my hand and let the sorrow take over me. My sisters cried in a hug. My mother was there too, calming them down.

“He’s now in a better place. He’s free of the pain,” she said while stroking their backs.

I joined the hug after a moment of solo-heavy-cry and made the most heartbreaking grief in the world.

11 Februari 2019

Popped-Up Thoughts

Few days after the death of one of my best friend's father, I asked to one of my other besties, "what if that happen to us?"

"I might've cried desperately if my parents die," she answered. 

I frowned, because that's not what I mean. 

What if the death happens to us? I corrected her in silence. 

Then, I realized that people just don't come up with the thought of their being dead as easily as I do. 

Like what I did, when I rode my motorbike on a fine afternoon few weeks ago. The clouds were still hanging after the heavy rain stopped and people were filling the roads with their vehicles. Waiting for the light to turn green, I counted along the down-counter which installed above the traffic light. 

I went across the junction when the counter changed color. So did the other riders and drivers. Including a car which came from the same direction, but a different road. 

I flinched.   

The thought popped up. 

It was me, crushed by the car which just passed me by. I could see myself lying on the wet asphalt by the right side of the road, gasping for air, waiting for death to come. A crowd gathered around my body and my broken motorbike. I couldn't hear anything nor smell the blood underneath my head. I see people's faces in a blur, they tried to lift my body from the ground, but I was numb.

I'm dying. I thought. A thought inside a thought. 

A second or two later, the picture disappeared.

I put myself back together right away and keep on riding. Just like what I always did. 

Another images of my deaths also appeared when I'm not even outside, not even when I'm in a risk of being crashed by any car. 

I might be at home, watching the rain that hadn't stopped for hours and my mind would be flown away by the cold weather, to the bottom of the huge embankment next to my house. 

I pictured myself drowning deeper, touching the sticky turf and filling my lung with water. I felt the freezing water on every inch of my body. It was light and calm. 

No one told me that dying could feel this good. I thought, as my body turned blue and floated. 

I saw my mother coming from work. She found my dead body and cried painfully. Her husband was there too, standing still in shock. 

A second or two later, the image vanished.

I put myself back together right away and watched the heavy drops turn into drizzles. 

23 November 2018

Another Home 2

She spent another five years living in Another Home. She wasn't too excited for coming back, nor too sad for leaving Hometown. She left her school in Hometown, when she was in her senior year of elementary school. Leaving her friends was never been a big deal for her. Mainly because she's never been so into making friends.

22 November 2018

One Fine Day

Today, everything was perfectly fine. Just like any other days. I stayed in my room all day, wrote stuff, watched movies, had meals, had a coffee, replied mom's text, drank a lot of water, paid for the room rent, talked with my next-door mate. Everything was fine, but not until my chest told me I wasn't. I felt something heavy inside. Something I didn't know what to call. I cried before I knew it. 

"Is it all worth it?" I asked myself. I saw myself sitting in front of my laptop, along with my black book, pencil, eraser and a cup of coffee. Then, I saw myself on other days. I did the same thing, in the same place. 

"No, it is not," someone answered. 

My mind flew to days when I was younger. I was seven. I saw myself smiling while writing a story about a birthday girl. 

"Why didn't you tell her before? Why did you even let her have this silly ambition in such a young age? Why did you let that little girl believes on an arbitrary dream? Why didn't you warn her that she might regret having this desire?"

No one answered.

I cried louder. 

The next thing I know, was this someone inside my head, telling myself about how worthless I am. 

"You're not even worth the life you live," that someone said. "You've been telling lies in your whole life. You told yourself you can do this, while you know you can't. You're not good enough. You're a failure. People will make fun of you. Ooh, maybe they won't even bother making fun of you at all, because they just don't give a shit to you. They don't even know you're exist. 

"You're not a daughter your parents proud of, you're not a friend your friends care about, you're just not a human any human gives a shit to. 

"Maybe it would be better if you don't exist at all. Your mom will only have your sister and she'll be fine. Your ibu kos will have another tenant for this room and she'll be fine. Your best friends will have another person to befriend with and they'll be okay. Your crushes will have another girls to have crush on and they'll be good.  

"You can't do anything. You can't be anyone. You're nothing and you're no one. Your struggle is worthless, your tears, heavy breath and self-sabotaging mind is such a waste. Your life is such a waste.  

"Why do you even live? You shouldn't have even lived at all."

I shut it up. I couldn't breath. I gasped for air to fill my lung. My tears was all over my pillow case.

Then, the voices stopped. My head was back in silence. I was breathing again. I stopped crying. 

I know that someone is still there. She's in my head, waiting for another fine day to emerge, sabotage my mind, fill my chest with heavy stuff that I didn't even know I kept for all this time.

15 November 2018

Another Home

A long time ago, there was a little girl who lived in the most memorable place on earth. People named that place Jogja. She named it Another Home. She lived there with her mother and little sister. Sometimes, her father came to visit. He would came along from a place called Hometown and brought her another piece of happiness. Whenever her three precious people was around, she knew that it couldn't be any happier. Until it was not.

1 Mei 2018

Her

This anxiety has continuously come since the day I graduated. The whole thing about graduation was never been a matter to me. But it was, for my mom. My sister told me that mom was bursting into tears while staring at me walking down the hall wearing the whole graduation attire. Of course, it's never been my success. It's my mom's. She's the one who did all the struggle, I was just having fun while studying a little.

3 Maret 2018

February Wrap-Up

Image result for february

The beginning of a new month has come in a blink of an eye. In February, (beside turning 22) I started and finished my IETLS course, which I supposed to take more seriously with doing more self-study instead of relying on what's the tutor telling me. I had an IELTS simulation for reading and listening. Don't ask me how I was doing. I was terrible. That's all. I  wasn't even expecting any score higher than 4. Even 3. A good thing about learning English (again) is feeling good about feeling like a foolish. At least I knew something that I'm terrible at. Apparently, every single thing. 

Beside the IELTS, I took another role in GPY Semarang as a vice leader. I knew I should've just stepped aside from any organizational thingy, because I felt like I've done enough for this past four years. Unfortunately, that was the only thing that made me stay human: meet people and communicate right to others' eyes. Our team will conduct two major events by only two months of preparation and I'm ready to be insane with them. I was encouraged to maintain my own project and was expected enlarge the impact. I wasn't even given the chance to question why the hell those people were counting on my project so much. 

Last but not least, I'm still living up my dream which has been there since I wasn't even know how to ride a bike: writing a book. So far, I've done.. nothing but a rough outline which has come to an endless revising phase. On daily basis, I still observe people and play silly scenarios in my head with them as the main characters, I still rather be with my hand-written note than a digital one to keep any sudden-coming ideas and most of all.. I still have no idea on how to finish the damn outline. Wish for a progress in March. 

Wish me luck.

9 Januari 2018

Kepiluan Masa Kecil

Related image

Pada usiaku yang keempat, aku diajari melipat bangau oleh kawan Ibuku. Kuikuti setiap tahap yang diperagakannya. Awalnya aku bisa mengikuti dengan mudah, tapi lama kelamaan, Si Om itu mulai laju lipat-melipatnya. Aku pun tertingggal jauh. Si Om sudah menyelesaikan bangaunya, sedangkan aku kebingungan dengan origamiku. Sesak. Sesak sekali rasanya ditinggalkan melipat bangau oleh Si Om. Aku tidak terima ditinggal begitu. Menangislah aku di pelukan Ibu yang sedang ada di kamarnya. Ibu menuntunku menemui Si Om, kuharap Ibu akan meminta Om untuk mengajariku dengan perlahan. Tapi Ibu tidak melakukannya dan Si Om malah tertawa-tawa sambil menunjukkan bangaunya yang sudah jadi dengan sangat indah. Aku pun menangis semakin nyaring. Aku tidak terima ditertawakan setelah ditinggal membuat bangau. Aku juga sendirian dalam sedihku, karena Ibu tidak mengerti keinginanku untuk diajari melipat bangau dengan pelan-pelan.

Kepiluan yang lain, terjadi saat aku lebih muda satu tahun, usia tiga tahun. Aku punya kawan namanya Vita. Ia sangat gendut, karena makannya banyak. Sore itu, aku dan Vita bermain di depan rumah kami yang bertetangga. Aku bermain dengan sepeda roda tigaku dan Vita yang tidak punya sepeda, hanya meloncat-loncat sambil disuapi makan sore oleh ibunya. Aku ingat waktu itu ada tiga ibu-ibu yang mengerubungi kami bermain. Saat aku asik bermain sepeda, tiba-tiba Vita bilang ingin main sepeda juga.

Berat sekali hatiku meminjamkan sepedaku pada Vita yang gendut, aku takut sepedaku rusak karena berat badan Vita. Tapi ibunya menyuruhku untuk meminjami Vita. Aku pun meminjaminya dengan berat hati, sambil bilang, "awas nanti jatuh." Tak berapa lama setelah Vita naik di sepedaku, benar saja. Ia terjatuh dan menangis. Aku marah pada Vita. Aku pun bilang, "kasihan deh lo!" Sontak, ibu-ibu menertawakanku. Aku tidak mengerti apa yang mereka tertawakan. Aku marah dan bingung. Sesak. Sesak sekali rasanya. Aku ditertawakan saat aku merasa kesal. Aku pun berlari ke dalam rumah, menuju kamar Ayah, menemui Ayah yang setengah tertidur. Mengadu padanya dan menangis senyaring-nyaringnya. Tapi Ayah tidak melakukan apa pun dan kembali tidur. Aku kesal dengan Ayah, karena tidak melakukan apa-apa saat aku sedih.

Kira-kira, masih pada usiaku yang ketiga. Aku sangat takut dengan boneka Susan milik tetanggaku, Vita. Suatu hari, aku main ke rumahnya. Vita punya seorang kakak perempuan, yang sepertinya sangat menyukai boneka itu. Saat aku dan Vita sedang bermain, kakak perempuannya itu ikut bermain bersama kami, tapi dengan membawa boneka Susannya. Aku pun terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak ingin Susan memakanku dengan wajahnya yang seram. Kakak perempuan Vita pun membawa pergi boneka Susan, dibukanya jendela kamar dan dijulurkan boneka itu di jendela. Ia bilang, "nih bonekanya aku buang. Sudah aku buang." Aku masih menangis. Usiaku tiga tahun, tapi aku tahu persis bahwa aku sedang dibohongi. Boneka itu tidak pernah dibuang. Boneka itu hanya melewati jendela, tapi tidak dilepaskan dari tangan kakak perempuan Vita. Aku pun pulang dengan perasaan sedih, karena takut Susan dan dibohongi.

Kepiluan masa kecil itu masih kuingat hingga detik ini. Akhirnya aku sampai pada saat aku mampu menjelaskan apa yang kurasakan dulu. Kini aku tahu, bahwa aku benci ditertawakan, dibohongi dan aku ingin dibela saat aku sedih.  

18 Mei 2017

Dua Pribadi Satu Tubuh

Hari itu tak hujan, tak juga panas. Tapi gadis itu merasakan panas dingin. Dipandanginya tempelan-tempelan to-do list yang sejak enam bulan terakhir ini rutin ia lakukan. Ia akan membuat daftar tentang setiap hal yang harus ia lakukan setiap hari kertas putih yang ditulisinya menyerupai kalender selama satu bulan. Ia rutin menempel to-do list setiap hari dalam kertas putih itu. Rutin juga mengganti kalendernya setiap bulan dengan membuat yang baru. Rupanya ia juga rutin melanggar apa yang ia tulis. Kali ini ia ingin berdalih, ketika menulis daftar hal yang harus dilakukannya dan ketika melaksanakan hal-hal yang sudah ditulisnya itu, terdapat dua orang yang berbeda. Ia yang menulis dan merencanakan adalah dirinya yang berbeda dengan dirinya yang melakukan perencanaan itu. 

8 Mei 2017

Ulang Tahun Teman-Tiga-Tahun-Semeja Waktu SMP

Hari ini temanku ulang tahun. Teman berbagi meja selama tiga tahun di SMP dan berbagi sekolah yang sama selama satu tahun di SMA. Dulu kita sama-sama hanya sebiji anak SMP yang menginjak pubertas di waktu yang kurang lebih sama, sama-sama seonggok bocah culun yang nggak pernah naksir ataupun ditaksir cowok mana pun, dan sama-sama jadi dua orang yang piket kelas pada hari yang sama selama tiga tahun, hari Kamis. Tapi ada satu perbedaan signifikan antara kami. Dia yang selalu rangking satu dan aku yang hanya lima besar atau lebih. 

17 April 2017

Sebuah Fajar

Fajar datang, seorang gadis bangun dari tidurnya, dengan berbagai kembang tidur yang semerta-merta langsung rontok dari kepalanya. Gadis itu menggeleng hebat saat berusaha mengingat sesuatu dari yang rontok itu, tapi tak ada satu pun yang tersisa dalam ingatannya. Ia pun menyerah. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya, sendiri, sunyi, hanya bunyi ayam yang tak henti berkokok, ia ke kamar mandi, wudhu, sembahyang, lalu berhadapan dengan laptopnya. Secara mengejutkan, hal-hal yang tadi mati-matian ia usahakan untuk diingat, kini menari-nari di kepalanya dengan liar. 

10 Maret 2017

Yang Senior Pamit

Yang senior harus pamit demi mencapai gelar sarjana. Maka ia tinggalkanlah sebuah organisasi yang katanya pers kampus yang di dalamnya ada banyak bocah cilik minta dikasih makan ilmu-ilmu soft skill yang katanya nggak ada di kelas. Yang senior ini pun akhirnya menghirup udara bebas setelah tiga tahun terkekang dalam belenggu tugas-tugas keorganisasian yang lumayan bikin tergopoh-gopoh. Belenggu yang malah bikin si cabe senior ini menangis bombay seperti anak ayam saat harus berpisah dengan anak-anak ayam yang lain. 

Undur-Undur

Pengerjaan skripsi beberapa hari belakangan ini sepertinya tidak ada perkembangan. Gitu gitu saja. Tidak maju maju seperti undur-undur. Itu lho, hewan yang merasa hidupnya sangat berfaedah hanya dengan berjalan mundur. Berguling kesana kemari dari matahari terbit sampai terbenam lalu terbit lagi. Hingga akhirnya mahasiswa tuek ini sampai pada kesimpulan bahwa hidupnya kurang lebih seperti undur-undur.