Tampilkan postingan dengan label Fairy Tales. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fairy Tales. Tampilkan semua postingan

13 April 2020

Anita mau minum kopi


Anita tidak memulai ceritanya dengan terbangun di pagi hari, karena nyatanya semalam ia tidak tidur dan sekarang sudah siang. Anita ingin gosok gigi dan cuci kaki, akan tetapi ia selalu diajarkan untuk gosok gigi dan cuci kaki sebelum tidur. Sekarang, Anita sedang tidak ingin tidur, karena ia baru saja bangun tidur. Anita pun tidak jadi gosok gigi dan cuci kaki. Alih-alih, ia pergi ke dapur, ingin membuat kopi.

Anita ingat bahwa kopinya sudah hampir habis, tapi belum benar-benar habis. Kira-kira masih bisa untuk membuat satu cangkir lagi. Namun, malang nasib Anita, wadah tempat ia menyimpan kopi rupanya sudah kosong melompong, seperti empat gigi seri Rosyid, adik sepupu Anita, usia lima tahun yang tidak pernah diajarkan ibunya untuk gosok gigi. Tidak seperti Anita yang sejak baru lahir, sejak badannya masih merah mengkerut dari dalam rahim, sejak sebelum ada gigi muncul, sampai gigi susunya satu per satu tumbuh, lalu satu per satu tanggal berganti gigi permanen, Ayah dan Ibunya tidak pernah alpa mengingatkannya untuk menggosok gigi. 

Anita bergidik kalau ingat bagaimana dulu orang tuanya mengingatkan, lebih tepatnya memaksa, memaksa Anita untuk ke kamar mandi dan membuka mulut. Anita punya adik perempuan yang saat itu kepalanya bulat seperti buah kelapa dan rambutnya mencuat-cuat seperti sabut kelapa, namanya Fantasia. Anita sendiri yang memberi nama, karena saat itu ia ingin sekali pergi bermain ke Fantasia. Fantasia menangis nyaring sekali di ambang pintu, menonton penderitaan kakaknya, yang sebentar lagi juga akan menjadi penderitaannya. Anita selalu menghitung detik demi detik giginya yang mungil digosok dengan pasta rasa stroberi. Anita tidak pernah suka wangi stroberi, saat teman-teman Anita di taman kanak-kanak selalu beli susu dan camilan yang rasa stroberi, ia lebih suka minum air putih yang kemana-mana dibawanya dalam botol plastik berbentuk telepon genggam kuning berantena merah. Telepon genggam itu sering digunakan Anita untuk menelepon Fantasia yang sering membuntut di belakangnya. 

Kabinet di atas kompor hanya menyimpan setoples teh dan gula. Ada garam, lada hitam, lada putih, ketumbar bubuk, bawang putih bubuk, dan penyedap rasa berjejer-jejer, tetapi Anita tidak bisa membuat kopi dengan bahan-bahan itu. Anita terheran-heran, karena dari empat anggota keluarga yang tinggal di rumah ini, hanya Anita yang suka minum kopi. Anita mendengar suara nyaring televisi dari ruang tengah, Ibu menyemprot pewangi ke baju yang disetrikanya, Bapak rebahan sambil menggali lubang hidungnya, Fantasia berfantasi dengan buku bacaannya, tidak satu pun dari bertiga itu yang sedang minum kopi. 

Kata orang di televisi, semua orang di seluruh dunia sedang tidak boleh keluar rumah. Ada virus dimana-mana, ada wabah yang bisa membunuh anak-anak, orang muda, dan orang tua. Waspada. Harus sering cuci tangan. Dilarang batuk dan bersin sembarangan. Gara-gara kata orang di televisi itu, sudah tiga minggu ini Anita tidak keluar rumah. Sendi-sendinya mulai kaku, otot-ototnya mulai melembek, lambungnya meronta-ronta akibat kebanyakan telur dan kecap. Tidak masalah bagi Anita. Selama ada kopi, Anita senang, tapi tidak hari ini.

“Ada yang minum kopi punya Anita?” seru Anita dari dapur. Ada yang menyahut tidak, ada yang menyuruh cari kopinya dengan benar mana tahu terselip di antara beras dan mi instan, ada yang balik berseru, “diminum Si Korona!” 

Anita mengumpat dan membanting pintu kabinet sampai engselnya rompel. Ia ditegur Ibu, katanya anak gadis tidak boleh mengumpat. Ibu tidak tahu bahwa engsel kabinet favoritnya rompel gara-gara Anita mengumpat. Anita balik menyahut teguran Ibu, ia bilang bahwa: pertama, tidak ada hubungannya antara menjadi gadis dan tidak mengumpat; kedua, mengumpat adalah cara untuk mengekspresikan emosi yang tidak membahayakan siapa pun; dan ketiga, Anita belum sempat memikirkan pembelaan dirinya yang ketiga, karena Fantasia keburu menyela, “tinggal beli ke warung saja, apa susahnya?” 

“Susah! Ada Si Korona!” omel Anita. “Kalau tidak ada yang minum, seharusnya ada di sini. Di toples ini. Tapi ini kemana? Bapak, Ibu, Fanta, tidak ada yang mengaku. Sudah dicari di antara beras, mi instan, sarden, telur, teh, minyak goreng, tidak ada dimana-mana! Makanan kita kan cuma ini-ini saja selama di rumah. 

“Kita juga tidak punya pembantu yang suka minum kopi. Lagian, kita kan tidak punya pembantu. Kalau pun punya, dia juga tidak akan ada di sini saat ini. Dia akan pulang kampung! Pulang seperti orang-orang di televisi itu! Disuruh tidak kemana-mana, malah keluyuran. Dasar bandel! Nanti sakit yang repot siapa? Negara, kan? Nanti kalau Anita keluar beli kopi, pulang-pulang kena Si Korona, yang repot siapa? Ibu, Bapak, Fanta. Semua, kan? Makanya, tolonglah mengaku saja siapa yang minum kopi Anita. 

“Apa perlu Anita cek satu-satu bau mulutnya? Yang bau kopi dan tidak gosok gigi setelah minum kopi adalah pelakunya. Dulu mau gosok gigi juga dipaksa, beli pasta gigi juga dipaksa harus yang stroberi. Oh, Fantasia! Cuma dia yang senang stroberi. Hanya dia! Lihat dia sekarang! Terpaksa baca buku padahal sukanya stroberi. Terpaksa diam di rumah, padahal senang kelayapan. Sekarang sudah sebesar ini, lalu menuduh Si Korona yang ambil kopi. Tidak masuk akal! Kalau benar Si Korona itu yang minum, Anita akan keluar, minta pertanggungjawaban, suruh dia beli kopi baru.”

“Fanta, bantu kakakmu cari kopinya!” perintah Ibu. Setrikaannya masih menggunung meski cairan pewanginya sudah menipis, Bapak masih setengah sadar dengan telunjuk masih menancap di lubang hidung, Fantasia masih pura-pura tidak mendengar sampai Ibu mengulang perintahnya tiga kali. 

Fantasia mendatangi Anita. Ia tiba di dapur dan menemukan sebuah kekacauan: pintu kabinet rompel, pintu kulkas terbuka lebar, bayam, kangkung, wortel, buncis, tahu, tempe, telur, sarden, beras, bumbu dapur, berenang-renang di atas lantai bersama minyak goreng, susu cair, dan air yang mengalir dari bak cuci piring. Anita berada di antaranya, kedua tangannya meraba-raba, membolak-balik, meraih-raih, membuka, menutup. Ia berdiri dan terpeleset, berusaha bangkit dan gagal, lalu mengumpat berkali-kali. Ibu mendengar umpatannya dan ia pun ditegur berkali-kali. 

“Jangan diam saja! Bantu aku berdiri!” Anita mengulurkan tangannya. Tangannya diraih Fantasia, pelan-pelan ia mengangkat tubuhnya. Gagal. Fantasia pun kehilangan pijakan. Mereka tumbang dan basah kuyup. Mereka mencoba lagi dan gagal lagi. Tubuh mereka semakin kuyup. 

Anita terbangun di pagi hari. Bukan, bukan untuk mengawali ceritanya, karena ceritanya sudah berakhir. Ia terbangun dan tidak menemukan kesibukan di ruang tengah, tidak ada kekacauan di dapur, tidak ada tubuh yang kuyup, tidak ada Fantasia yang jatuh bersamanya. Hanya ada secangkir kopi di genggamannya. Hangat. Wangi. Bukan, bukan wangi stroberi. Ini wangi kegemarannya, wangi kopinya yang tadi raib. 

. . .

30 Juli 2018

The Day I Lost My Right Arm

One fine Monday morning, I woke up and couldn't find my right arm. It was not on the pillow, under the blanket, nor behind my back. It wasn't everywhere. I glanced at my feet, wondering if they were intact. Thank God, they were.

It was 7.30 am. One and a half hour before I should go to work. I still got time to find my other arm, but I needed help, so I asked you to come out.

"Where the heck you put it? You fed it to a hyena or something?" You were frustrated. Your hair was as messy as mine, we both always look terrible in every morning.

"I can't remember. I'm sure it was here." I pointed at my right shoulder, showing you a spot where my right arm should be. Now, it's just a 10-centimeters-long bone, covered by a thin layer of skin. It was like a cut from a neat-freak, that was operated during my deep sleep last night. "Help me find it," I said.

You rolled your eyes, seemed uninteresred. "Can't we just have a breakfast? I'm so hungry, I could die." You knew I hated complain and it wasn't take you too long to restate your offer. "Let's find it on nearby soto seller. You have soto for breakfast every morning, maybe it made you forgot to bring back your arm."

I noticed your stupid idea, but I agreed anyway. "Make sense." We left to have a breakfast and to find my right arm.

to be continued

8 Januari 2018

Mawar Putih dalam Keberadaan



Selama lima tahun keberadaan kulkas di dapur seorang manusia, ia telah menjadi saksi bisu perjuangan bunga mawar putih dalam pot yang bertahta di atas si kulkas. Seharian ini, bunga mawar memekik-mekik pada manusia yang mondar-mondir di dapur, untuk setidaknya melihat keindahan kelopaknya. Manusia pertama tidak melihatnya. Manusia kedua ke dapur hanya untuk ambil air es dari kulkas. Manusia kedua ke dapur untuk makan siang sambil baca update dari akun gosip. Manusia ketiga ke dapur untuk mengejar kucing yang menggondol tulang ayam. Manusia keempat ke dapur untuk duduk sambil tenggelam dalam buku bacaannya. Satu kesamaan mereka. Tidak ada yang menyadari keberadaan si mawar putih. 

Suatu malam, saat keempat manusia itu telah terlelap, si mawar putih pun berkeluh kesah kepada kulkas. "Aku tahu aku hanyalah pajangan. Pajangan untuk mempercantik dirimu. Pajangan untuk memperindah seisi dapur ini. Tapi, manusia-manusia itu, tidak sekali pun menyadari bahwa aku ada di atas sini. Aku ada untuk disaksikan kecantikanku."

Kulkas memandang ke atas kepalanya. Ia menemukan si mawar putih berlinangan air matanya. Entah datang dari mana air-air itu. "Kau boleh masuk ke dalam tubuhku untuk bergabung dengan bahan-bahan makanan. Para manusia itu pasti akan menyadari kehadiranmu."

Si mawar putih berpikir. Baginya, ide itu tidak buruk juga. Tapi, tidak cukup bagus juga. "Apakah aku bisa bertahan di dalam tubuhmu yang dingin itu?" 

Kulkas mengguncang lembut tubuhnya. "Jangan kuatir, aku berani jamin bahwa tidak akan ada satu pun kelopak maupun daun dari tubuhmu yang menderita karena dinginku. Mereka justru akan senang dengan perubahan suhu dari suhu kamar ke suhu tubuhku."

Setelah menimbang beberapa saat, si mawar putih pun meloncat dari singgasananya dan si kulkas menangkapnya dengan membuka pintu, lalu membuka laci sayur-sayuran yang terletak paling bawah. Mawar putih pun mendarat dengan sempurna di dalam laci itu. Meski merasa agak kedinginan, ia tidak keberatan setelah membayangkan bahwa nanti pagi, para manusia akan menyadari kehadirannya. Si mawar putih sudah tidak tahan dengan dinginnya kulkas. 

Pagi yang dinanti-nanti pun tiba. Para manusia bangun, membuat sarapan, tapi tidak satu pun yang ingin sarapan dengan sayur mayur. Akhirnya, pagi ini laci sayur pun tidak ada yang membuka. Mawar putih pun masih bercokol di sana. Ia masih sabar menanti hingga siang hari. Biasanya manusia akan membuat sayur bening untuk makan siang. Ternyata pada siang hari pun tidak ada yang ke dapur. Semua manusia sedang sibuk di luar rumah, berkegiatan masing-masing. Kali ini, si mawar putih sangat yakin bahwa akan ada manusia yang membuat makan malam dengan sayur mayur. Biasanya untuk lalapan. Namun, para manusia ternyata memilih untuk makan dengan delivery order. Kulkas pun tak tersentuh. Hal serupa terjadi selama beberapa hari, hingga mawar putih mulai kehilangan cantik rupanya. 

Setelah menunggu selama empat hari empat malam, akhirnya seorang manusia membuka laci sayur mayur untuk membuat sayur sop. Terkejutlah ia karena menemukan mawar putih yang telah kecoklatan kelopaknya dan layu daun-daunnya. Tidak habis pikir bagi si manusia itu, bagaimana setangkai mawar bisa nyasar bersama sayur-mayur. Si manusia pun mengambil tubuh dingin mawar putih dan membuangnya ke halaman belakang, bersama rerumputan dan bebatuan dekat kolam ikan yang berisik bunyi airnya.

Dalam tidur panjang si mawar putih, ia pun tersenyum. Penantian panjangnya akhirnya berakhir bahagia. Setidaknya, pada detik terakhir kehidupannya, seorang manusia datang untuk menyadari keberadaannya. Menyadari keberadaan tubuhnya yang perlahan menjelma ketidakberadaan. Si mawar putih belajar satu hal, bahwa kesadaran terhadap keberadaan, tidak semata-mata harus hadir pada saat keberadaan itu  terjadi. Bukankah ketidakberadaan juga merupakan bagian dari keberadaan?

Lima Babi Kecil

Suatu hari, ada lima babi kecil bersaudara yang sedang jalan-jalan ke tempat yang sangat dingin. Mereka bermalam di sebuah kandang kecil yang harus muat diisi berlima selama lima hari. Ada yang mengeluh dingin, ada yang mengeluh kelaparan tiap saat, ada yang mengeluh sulit bergerak dan ada yang mengeluh rindu rumah. Babi paling bungsu adalah satu-satunya yang tidak mengeluh tentang apa pun. Ia diam saja sepanjang jalan menuju tempat dingin, hingga saat telah tiba di sana.

Suatu malam, ketika kakak-kakaknya pergi keluar kandang untuk cari pakan, si bungsu memilih untuk tinggal di kandang. Ia ingin sendirian untuk sementara waktu. Ia ingin membaca buku untuk mengetahui caranya kabur dari kandang yang sempit itu. Setelah membaca buku beberapa lama, akhirnya ditemukanlah suatu cara untuk kabur, yaitu dengan pura-pura sakit. Sakitnya si bungsu akan membuat kakak-kakaknya khawatir. Kekhawatiran itu akan membuat kakak-kakaknya merasa bersalah, karena telah membawa si bungsu ikut ke kandang yang sempit bersama mereka. Akhirnya si bungsu pun akan dibawa kembali ke kandangnya yang nyaman dan luas. Itulah rencana yang tergambar di benak si bungsu.

Tapi tak lama kemudian, kakak-kakak si bungsu tiba di kandang. Mereka menemukan adik mereka terkapar di atas tumpukan jerami karena perutnya sakit. Padahal, kakak-kakak telah menyiapkan makanan yaitu berupa roti bakar isi coklat.

"Kamu kenapa adikku?" tanya kakak pertama.

"Masuk angin, kak," jawab si bungsu.

"Ya sudah kamu makan saja dulu roti ini. Kami belikan spesial untukmu," sahut kakak kedua.

"Habis ini pakai minyak angin supaya mendingan." Kakak ketiga sibuk mencari-cari minyak angin di tumpukan jerami.

Kakak keempat diam saja, tapi mengusap-usap punggung si bungsu.

"Aku ingin pulang, tidak ingin tinggal di tempat ini. Tempat ini menyiksaku." Si bungsu memohon-mohon pada kakaknya, masih terlentang di jerami. Tak tega melihat adiknya menderita, para kakak pun mengiyakan keinginam si adik. Namun, malam ini mereka harus tinggal di tempat sempit itu dulu.

Si bungsu merasa semakin menderita. Ia tidak sanggup tidur di tempat itu. Malam hari, ketika para kakaknya tidur, ia pun memutuskan untuk keluar dari kandang yang kecil itu. Ia ingin bertemu dengan laron yang ramai di ilalang dekat kandangnya.

"Aku ingin kau membantuku enyah dari kandang ya menyebalkan itu. Kandang yang kakak-kakakku pun tak suka. Mereka tetap mengatakan hal-hal buruk tentang kandang itu, tapi mereka tetap saja tinggal di sana.  Aku punya rencana untuk melakukan sesuatu dengan kandang itu. Tapi tak bisa kulakukan sendiri."

Para laron, sambil tetap terbang dan menyala-nyala, menanggapi si bungsu. "Apa yang bisa kami lakukan?"

Si bungsu pun mendekat pada para laron. Mereka berdiskusi tentang rencana si bungsu. Mereka pun tiba kembali di kandang babi dengan membawa minyak tanah. Ribuan laron mengepung kandang babi, lalu mengeluarkan percikan api dari pantat mereka. Si bungsu menumpahkan jirigen minyak tanah, sehingga menyulut api yang menghujami kandang. Tak perlu waktu lama untuk menyaksikan kandang bersama empat kakaknya, terkepung dalam api yamg menari-nari. Sempat terdengar jeritan dari para kakak si bungsu, sebelum suaranya hilang dan musnah ditelan api.

"Kerja bagus, kawan-kawan," kata si bungsu pada para laron. "Aku jengah dengan mereka yang hanya mengeluh, tapi tidak melakukan apa pun untuk kehidupan mereka. Setidaknya aku lebih baik dari mereka, karena memilih bertindak dalam diam."

"Tapi kau bilang mereka sangat cemas padamu saat kau pura-pura sakit."


"Aku benci kecemasan mereka. Mereka hanya pura-pura."

Lima Sekawan

Suatu hari, ada lima sekawan yang berbagi pembicaraan tentang pekerjaan dan kuliah lanjutan. Pembicaraan berlangsung sengit dan membingungkan. Selama pembicaraan, salah satu dari mereka yang bernama A, sedang berjuang dalam badai halilintar yang terjadi di kepalanya. Si A ini, kenal dengan Z yang setiap hari berkutat di depan layar yang menyala-nyala untuk menghasilkan berlembar-lembar kisah dongeng. Gara-gara Z, A ingin juga punya pekerjaan seperti itu.

"Aku ingin hanya duduk dan punya dongeng sepertimu, apakah aku bisa?" tanya A saat pertama kali ia bertemu Z.

"Tentu saja kau bisa. Kau hanya perlu berdarah-darah selama bertahun-tahun. Setelah itu, kau bisa merasakan nikmatnya darahmu." Z menjelaskan sambil membenahi letak kacamatanya yang menantang nyala layar di hadapannya.

"Tapi teman-temanku tidak ada yang ingin jadi sepertimu," kata Z.

"Dan.. Apa kau peduli dengan itu?"

A mengangkat bahu. "Aku ingin tidak peduli, tapi tak bisa."

Z memutar bola matanya, melanjutkan kegiatan dengan layarnya yang berpendar dan menghiraukan A. Z tidak ingin ikut campur dalam urusan anak baru lulus yang bingung ini itu. Hidupnya sudah terlampau nyaman untuk diusik oleh hal-hal semacam itu.

"Katakan apa yang harus kulakukan," desak A.

"Dengar anak muda, di dunia ini tidak ada yang peduli apa kau akan hidup untuk menghidupi mimpi-mimpimu, atau tidak hidup sama sekali. Jadi, kau yang putuskan. Jangan libatkan aku." Z beranjak dari singgasananya, meninggalkan A sebatang kara dengan kecamuk di dalam kepalanya.

Tak berapa lama kemudian, Y menghampiri A. Mereka pun berbincang.

"Apa yang membuatmu gundah gulana?" tanya Y.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku gundah gulana?" A malah balik bertanya. "Aku benci saat orang berpikir bahwa aku gundah gulana."

"Mungkin ini saatnya kau menyadari bahwa mimpi-mimpimu itu pantas untuk ditanggalkan. Seperti aku, kutanggalkan semua yang membebani pundakku. Begitu lega, begitu menyenangkan."

Diangkatnya kaki ke atas meja, disandarkan tubuhnya dan dinikmati setiap tarikan napasnya.

Beberapa saat kemudian, A kembali bersama lima sekawannya. Ia ingin bicara, tapi ada yang memotong lidahnya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan ia bicarakan. Lidahnya pun tak tahu pemiliknya akan bicara apa.

3 Januari 2018

Baju Hitam Mau Liburan

Image result for clothes
Pada suatu malam, ada seorang pemilik baju bernama Siti. Ia baru saja bangun dari tidurnya yang tidak pada jam manusia pada umumnya. Ia bangun untuk menyadari banyak hal yang belum dilakukannya. Seperti mengepak pakaian untuk dibawa keesokan hari yang rupanya sudah jadi hari ini. Mengepak barang-barangyang seharusnya tidak akan menghabiskan waktu se-lama itu. 

"Aku cuman akan pergi tiga hari. Aku tidak akan membawamu terlalu banyak," kata Siti kepada selembar baju kaos hitam di lemari. 

Baju hitam itu mengangguk, "ayo cepat, rapihkan aku ke dalam tas. Jejalkan aku bersama sabun pencuci wajah, pakaian dalam, kaos kaki dan sumpalan telinga yang akan kau bawa nanti!" Rupanya baju itu sudah tidak sabar. Sayangnya, Siti punya terlalu banyak energi malas yang membuatnya malah menulis sebuah postingan tentang malasnya ini. 

Karena Siti tak kunjung datang untuk mengepak dirinya, si baju ini pun turun dari singgasananya di dalam lemari. Ia gotong royong bersama baju-baju lainnya untuk membuat simpul yang sangat panjang, sehingga mereka bisa mencapai ransel yang teronggok di atas lemari. Ransel itu menimpa tubuh mereka dari atas, tapi mereka bisa menyelinap dengan mudah dari reruntuhan itu. Dibukanya resliting ransel, lalu mereka pun melipat tubuh mereka sendiri, menggulung tubuh mereka dan berbarislah mereka dengan rapi di dalam ransel. Baju hitam yang sejak tadi memberi aba-aba pada teman-temannya, mendapat giliran terakhir untuk masuk ke ransel setelah memastikan bahwa semua teman-temannya telah mendarat di dalam tas dengan sempurna. 

"Lihat, kami sudah rapi di sini. Kau harus mengepak barang-barang lainnya. Meski di sini sudah cukup sesak, tapi kau juga butuh handuk, sikat gigi dan charger. Oh iya jangan lupa juga beli paket data, bukankah kau tidak bisa hidup tanpa internet?"

"Huh siapa bilang aku selalu butuh internet. Aku bisa saja bertahan tiga hari tiga malam tanpa membuka ponselku." Siti yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh selembar baju, merasa semakin malas untuk mengepak hal-hal lain yang disebutkan si baju itu. Ia tidak terima dinilai sebagai manusia yang diperbudak oleh internet.

"Jadi, kau mau pergi apa tidak? Cepat berkemas! Jangan sampai aku keluar dari ransel ini hanya untuk mengepakkan barang-barang yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu," kata si baju. 

Si pemilik sangat benci dengan si baju yang sangat cerewet. Tahu apa benda itu tentang tanggung jawab? Sok tahu. "Kalau kau mau cepat-cepat pergi, pergilah sendiri. Tidak usah bawa-bawa aku. Aku tidak butuh pergi kema-mana bersama benda berisik sepertimu." Si pemilik tahu bahwa si baju itu tidak akan bisa berkutik tanpa dirinya yang pergi kemana-mana. Si baju tidak punya tiket kereta atas namanya. Oh, ia bahkan tidak punya nama. Menyedihkan. 

"Baiklah, terserah kau saja. Tapi kalau sampai kau terlambat, aku akan pergi sendiri."

Beberapa jam kemudian, rupanya Siti tertidur pulas. Baju-baju yang sudah terlanjur mengepak diri mereka di dalam tas pun menggeleng-geleng heran pada Siti yang ngorok saat tidur. Baju-baju punya tekad sangat bulat untuk pergi dari tempat ini. Bersusah payah mereka menyatukan tenaga untuk membuat ransel bergerak. Usaha itu pun membuahkan hasil. Mereka tiba di stasiun kereta api, meletakkan diri di salah satu kursi penumpang atas nama Siti dan berangkat menyambut hari libur. 

2 Januari 2018

Yang Kepalanya Meledak


Image result for malam tahun baru
Pada jaman dahulu kala, ada orang yang terkenal karena kepalanya yang meledak pada malam tahun baru. Namanya Mark. Mark adalah orang yang paling senang saat malam pergantian tahun. Ia jadi gegap gempita gara-gara kembang api yang indah itu. Ia juga senang berada di tengah-tengah lautan manusia yang memenuhi lapangan maha luas di ibu kota untuk menyambut tahun baru. Ia pun bahagia saat orang-orang saling mengucapkan selamat tahun baru, setelah jam menunjuk angka 12.

Namun, setelah malam tahun baru, kehidupan Mark jadi kembali menyedihkan. Ia bertanya-tanya kapan kaya raya tapi pekerjaannya begitu-gitu saja, ia bertanya kapan jodohnya datang tapi tak ada yang peduli. Akibat "kapan" yang menumpuk-numpuk itu, mata Mark tidak lagi bisa melihat. Satu-satunya yang bisa dilihat adalah tanda tanya yang sangat amat besar dengan satu kata yang amat besar pula, KAPAN? Akibatnya, kegiatan sehari-hari Mark pun kacau balau karena KAPAN? telah membuat matanya buta.

Mark pun ingat pada cita-cita masa kecilnya. Ia ingin menjadi pembuat kembang api. Kata Mark, dengan membuat kembang api, ia bisa jadi senang seperti pada malam tahun baru dan tidak perlu merenungi kebutaannya. Jadilah Mark seorang pembuat kembang api. Meski tak bisa melihat, bunyi ledakan kembang api itu bisa membuat Mark senang juga. Banyak orang yang memuji kembang api buatan Mark. Senang dipuji, akhirnya Mark pun memohon pada Dewa Tahun Baru supaya matanya dimampukan lagi untuk melihat kembang apinya pada malam tahun baru nanti. Meski senang dengan pekerjaannya, tapi Mark masih tidak mengerti mengapa Dewa tidak membiarkannya bisa melihat. Padahal, kalau bisa melihat pasti akan lebih banyak kembang api bagus yang bisa dibuatnya.

Setelah, menanti-nanti sepanjang tahun, malam tahun baru pun tiba lagi. Malam yang telah ditunggu-tunggunya sepanjang tahun. Tepat tengah malam, kembang api pun bersahutan dimana-mana.  Semua orang memborong kembang api Mark untuk diledakkan di halaman rumah bersama keluarga dan teman-teman. Mark tak meninggalkan lapak kembang apinya, ia masih menanti matanya pulih kembali. Sambil mendengar kembang api yang bersahut-sahutan, Mark semakin gelisah dan bertanya-tanya kenapa Dewa tak kunjung memberinya penglihatan.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, orang-orang sudah mengucapkan selamat tahun baru dan bunyi kembang api semakin meriah. Tiba-tiba, kepala Mark ikut meledak bersama kembang api. Tidak ada yang menyadari hal itu, karena semua orang sedang bersuka cita dan suara kembang api menutupi jeritan Mark. Konon katanya, kepala Mark meledak karena Dewa ingin menjawab pertanyaan Mark tentang tentang penyebab matanya yang buta. Dewa juga ingin memberi alasan jodoh Mark yang tak kunjung datang atau Mark yang tak kunjung kaya raya. Tapi ternyata, isi kepala Mark terlalu kecil untuk bisa mengerti penjelasan dari Sang Dewa yang sangat rumit. Malang nasibnya, meledaklah isi kepala Mark.