21 Juli 2026

Tentang Perpustakaan

Akhir-akhir ini, berseliweran berita bahwa Perpusnas tidak lagi mendistribusikan buku-buku gratis ke beberapa daerah karena pengurangan anggaran. Perasaan marah dan sedih campur aduk. MBG, Kopdes, korupsi; praktik-praktik jahanam yang merugikan masyarakat justru dilanggengkan. Seorang tante membagikan video seorang pejabat membagikan uang modal bagi seorang mahasiswa yang harus berjualan keliling kampus untuk membantu orang tuanya. Kubayangkan perasaan terharu, miris, bangga, kagum, yang dirasakan para penonton video itu - termasuk aku. Namun, marah pun menelisik - mendominasi. Karena si pejabat tidak punya jawaban untuk pertanyaan si mahasiswa: "bagaimana caranya agar bahan baku tidak terus-menerus naik; terutama bagi pengusaha kecil menengah seperti saya?" Entah apa yang terjadi setelah video itu - baik sangkaku adalah si pejabat pada akhirnya menjawab pertanyaan itu, lalu berkoordinasi dengan berbagai sektor dan melakukan berbagai upaya menekan kenaikan harga bahan baku bagi para pengusaha UMKM; buruk sangkaku adalah si pejabat memang tak punya jawaban: membagikan-bagikan uang - yang rupanya sudah beramplop-amplop disiapkannya untuk setiap peserta seminarnya yang cerita hidupnya terasa memilukan, mengujarkan kata-kata manis - mengalihkan perkara dari permasalahan yang sesungguhnya; adalah satu-satunya - dua-duanya - hal yang dapat dilakukannya, sehingga publik tersentuh; terenyuh; menjunjung tinggi kebaikannya; menggadang-gadangnya sebagai pemimpin berbudi yang pantas menjabat selama-selama-lama-lamanya. 



Sementara di sini, di Bankstown Library, Australia, tempatku menulis; mengolah emosi: gundah, gelisah, aku bisa dengan seenaknya melihat-lihat ratusan koleksi novel teranyar terbaik terawat di rak-rak dalam gedung berarsitektur modern berlangit-langit tinggi berdinding serba kaca; meminjamnya; membacanya; mengembalikannya karena tidak suka dengan gaya penceritaan si penulis di novel itu - terlalu banyak adegan seks; dan meminjam lagi novel lain yang lebih kusukai, yang lebih sesuai dengan gaya penceritaan kegemaranku - yang juga baru kuketahui setelah sekian buku yang cocok-tidak-cocok kulahap selama masa tinggal kami di negara ini; kemewahan lainnya dari tinggal (sementara) di negara yang pajaknya kembali ke kepentingan publik alih-alih ke perut gentong para pejabatnya. 

Cara para pejabat kita bekerja adalah: entah dengan berjoget ria sambil mengolok-olok rakyatnya - secara langsung di podium atau secara tidak langsung dengan menyimpan emas 74 kilogram di brankas hunian pribadi, atau dengan dengan bermain peran sebagai aktor gadungan dalam pertunjukan jual-beli kasihan demi pencitraan. Maka, senyaman-nyamannya aku oleh suasana hidup di negaraku sendiri; oleh makanannya yang paling enak di dunia; oleh keluargaku yang semuanya di sana; oleh kebersyukuran dan kecukupanku akan diriku sendiri dan situasi hidup yang kujalani selama ini, mustahil untukku tidak menyimpan kepesimisan kronis di dalam hati; mustahil untukku tidak marah, sedih, oleh kondisi negaraku sendiri yang aku tahu secara objektif sudah tidak dapat tertolong lagi. Maka, keputusanku untuk tidak punya anak menjadi semakin ajeg seiring peredaran kabar buruk yang tak ada hentinya. Itulah caraku bertahan hidup; bertahan waras: menjaga hidupku sendiri - hidup kami yang sudah terlanjur hidup ini tetap berkecukupan hingga usia kami yang sampai entah. 

Setiap sesi dengan klien-klienku; yang mengeluh tentang kondisi negara ini, aku tidak bisa membantah. Aku malah ingin semakin menambahkan kedepresian mereka, karena begitulah juga yang kupikirkan. Namun, di sisi lain, mustahil untuk kita bisa hidup dengan terus-terusan terkungkung dengan pikiran yang seperti ini. Toh, memang sudah tidak bisa tertolong; toh, tidak ada yang bisa diubah lagi; jadi apa yang bisa kita lakukan itulah yang kita kendalikan - kembali lagi ke saran-saran klise dalam terapi yang itu-itu saja yang seringnya bosan - tapi memang demikianlah benar adanya - kuceramahkan di sesi-sesi dalam pekerjaanku yang mengambil untung dari penderitaan orang lain ini. 

Akhir kata, negara ini tidak tertolong lagi; benar, tapi, bukan berarti aku tidak menyayanginya. Benar, tapi bukan berarti aku lantas ingin melepas kewarganegaraanku dan tinggal selama-lamanya di Australia - toh, aku sudah sedang hidup di sini (selain karena alasan-alasan praktis lainnya yang memustahilkanku untuk tinggal di sini). Benar, tapi bukan berarti aku menyetujui olok-olok Bapak Presiden yang terhormat bahwa orang-orang pintar itu kalau tidak suka ya sudah tinggal cari saja negara lain untuk tinggal. Andaikan hidup semudah itu; andaikan benar semua ini hanya permainan ular-tangga - naik, turun, lalu kita mulai lagi; andaikan benar manusia tidak berperasaan, tidak berkeinginan, tidak berpikiran, tidak berkomunitas, tidak terjerat ini-itu, tentu saran Bapak yang terhormat akan dengan senang hati saya lakukan. Namun, nyatanya tidak. Nyatanya saya terjerat sekaligus merdeka. Hidup dalam keyakinan yang baiknya kita yakini 50:50 - ceramah yang itu-itu saja dalam sesi-sesi psikoterapi pekerjaanku.  

Pada akhirnya, kita akan mati dan terurai tanah; begitu pula Bapak Presiden yang terhormat. Aku bahkan tak lagi berdebar-debar; khawatir atas skenario bagaimana kematianku nanti; bagaimana negara ini kolaps. Toh, satu kenyataan itulah yang justru paling benar. Sebaik-baiknya kuusahakan menjalani hidup yang tak jelas juntrungannya ini sambil berpura-pura jadi yang paling tahu dalam sesi-sesi psikoterapi yang per jamnya kutarik uang-uang dari rekening orang-orang itu, sambil cemas pada hari-hariku cemas, sambil sakit kepala dan sakit perut pada hari-hari mendekati dan saat menstruasi, sambil bergembira; lalu tak peduli; lalu menangis; dan segala sesuatunya yang aneh-aneh dan bertolak belakang di antara waktu saat ini hingga menunggu mati. 

Intinya, negara ini hebat; negara ini kusayang; tapi ini negara ini adalah segala yang tapi-tapi yang tadi sudah panjang lebar kudeskripsikan di atas. 

18 Juni 2026

Kesedihan di Bankstown Library

Mimpinya tadi malam begitu jelas. Lembab, gerah udara tropis menyentuh kulitnya - bukan dingin, kering negara dia sekarang tinggal sementara. Dia pulang, di rumah, di kota yang tadinya bukan rumah tapi kini jadi rumah. Adiknya menunggui kamar tidurnya, memasang pernak-pernik yang ada tempelan nama-nama adiknya. Dia marah, bilang bahwa ini masih kamarnya. Lalu, kesedihan menguasainya. Dia sedih - tidak menangis, dalam mimpi. Dia terbangun, menyadari dia masih di kamar sepetak yang disewanya dan suaminya; yang ranjang di samping kompor, yang di samping meja makan yang juga meja kerja, yang di samping kamar mandi dan juga tempat buat hajat. Dia masih di Bankstown, Western Sydney, Australia, belum di Jogja, Semarang, apalagi Banjarmasin kota kelahirannya. Adiknya tidak ada, kamar indekosnya di Tembalang sudah hampir sepuluh tahun silam ditinggalkannya - kamar yang muncul dalam mimpinya. Kelegaan menggantikan kesedihan; yang sudah beberapa hari terakhir ini diam-diam menelisik sanubarinya. Entah apa sebabnya, padahal tadinya dia benci kota ini; benci negara ini; segala sesuatu tentangnya: kesulitan groceries shopping berjalan kaki dengan menenteng tas berat penuh di pundak alih-alih di antara kakinya di sepeda motor, kesulitan hari-hari memasak sarapan makan siang dan makan malamnya sendiri alih-alih membeli ini-itu yang nikmat sedap dengan harga murah, kesulitan berbagi satu ruangan sempit dengan orang asing yang kini adalah suaminya, dan kesulitan-kesulitan lainnya. Kesulitan-kesulitan itu, kini berganti kesedihan; kesedihan akan sesuatu yang belum terjadi - yang niscaya terjadi: dia akan pergi dalam lima bulan, untuk seterusnya, untuk selama-lamanya, barangkali tidak lagi akan memiliki rutinitas yang begini, yang sama persis, yang sehari-hari menjaganya waras. 

Di sudut Bankstown Library, dia diam menulis postingan ini. Diam-diam menangis, tahu-tahu air mata luruh - barangkali sudah lama ditahan. Berjalan kaki di bawah langit biru cerah terang benderang, di antara pepohonan yang bersemi pada semi; yang masih bersemi pada gugur; yang baru gugur pada musim dingin - yang ranting-ranting kurusnya menengadah meski gundul pada hari-hari belasan derajat seperti malam-malam awal Juni ini. Seorang barista dia senangi: manis senyumnya, ingat pesanannya, tersenyum setiap saat pada setiap orang - dia berbunga-bunga pada setiap Senin laki-laki itu bertugas dan agak sedih ketika yang dicari tak ada - anak SMP yang kasmaran oleh kakak kelas. Perpustakaan yang koleksinya dia amati tanpa pengetahuan apa pun, yang bukunya dia pinjam setelah pada satu Maret tahun lalu dibuatnya kartu anggota - resmi seolah permanent resident. Dia pulang membawa buku seolah perpustakaan itu miliknya. Pada siang hingga sore, kadang sampai malam, betah dia berlama-lama di satu sudut lantai tiga yang paling strategis; memandang ketiga lantai perpus dengan pemandangan kolam buatan, lapangan, anak-anak bermain, terang berganti gelap, di dalam perpus sepasang orang menyelesaikan puzzle, orang-orang membaca dan bekerja dengan laptop, sementara dia menulis, menulis, menulis, tak selesai, selesai, selesai. Para petugas perpus yang galak, yang baik, yang ramah, yang gendut pakai tongkat bantu, yang tua selalu menegur orang berisik, yang laki-laki senang bicara sendiri. Jalan-jalan menuju dan pulang perpus dengan telinga tersumpal - musik-musik yang sedang digandrunginya - mood-nya tergantung pada musik apa yang tersetel atau sebaliknya. 

Dia teringatkan, bahwa dalam lima bulan, dia harus meninggalkan semua ini untuk selama-lama-lamanya. Tak ada lagi rutinitas seperti ini, tidak ada lagi waktu-waktu menyendiri serba damai yang pada itulah dia menjadi dirinya sendiri, bereksperimen dengan novel-novel tak pernah selesai yang hanya menumpuk di drive-nya, mengamati orang-orang orang-orang, orang-orang yang datang pergi menetap - menetap seperti seorang lelaki India yang minta difotokan bersama ayahnya karena baru saja disumpah sebagai permanent resident. Ucapan selamat bertukar terima kasih. Ponsel baru, kinclong, keluaran terbaru paling canggih. Sementara, pikiran terseret pada tahun-tahun yang dihabiskan lelaki itu merantau dari kampung halamannya, bekerja siang-malam, bekerja siang-malam, demi tinggal di negara yang lebih baik, menghidupi hidup yang lebih baik, membanggakan orang tua - seorang ayah yang jauh-jauh datang dari luar negeri demi menyelamati anaknya yang jadi permanent resident. Betapa menyentuh, betapa terenyuh. Betapa dia tersadar dia tak punya itu. Dia tak punya apa-apa yang permanen. Dia hanya berpindah-pindah, berpindah-pindah-pindah-pindah. 



Maka, dia bersedih, menangis di tempat umum, di satu sisi yang tertutup pilar-pilar tinggi gedung perpustakaan, di depan sepasang tua yang berkali-kali menelepon entah petugas apa; telinganya tersumpal musik-musik sedih menyenangkan yang baru ditemukannya di platform streaming. Dia sedih. Dia tak tahu tak punya rumah membuatnya sedih. Barangkali sudah lama dia sedih, tetapi baru ini dia tersadar, gara-gara lelaki India yang hingar-bingar itu. Namun, tak apa. Dia putuskan untuk tak apa-apa. Karena, menurut suaminya, tahun depan mereka akan sudah punya rumah; dia bahkan tak terlalu senang - tak terlalu girang gegap-gempita dengan ide punya rumah yang menghabiskan uang (walau memang dari pajak orang-orang se-Indonesia uang itu didapatkannya - terima kasih). Tak menyangka dia akan sesedih ini oleh sebab negara yang menyebabkannya berat hati dan bolak-balik bolak-balik meninggalkan negara, kota, orang-orang yang dikiranya akan lama ditinggalkannya, tau-tau setiap semester dikunjunginya. Sekarang.. entahlah. Barangkali, memang sudah waktunya, sudah masanya. Dia tak pernah permanen. Hanya kutu loncat dari satu batu ke batu lain, menaruh hati di satu tempat lalu tempat lain, membangun rutinitas pengelabu dirinya sendiri seolah selamanya padahal sekejap mata. Akhir tahun ini, dia akan mengejapkan mata lagi. Lalu tahun depan, lalu tahun depan, entah bebila rumah yang katanya permanen, yang katanya miliknya - milik kita, itu dimulai, dibangun, diselesaikan, ditempati. Dia tak begitu paham, dia tak begitu ambil pusing, tapi nyatanya dia pusing, berkunang-kunang, sampai sakit hati, dada sesak, menangis tak karuan di depan pasangan tua yang sibuk sendiri. 


Ya sudahlah. Namanya juga hidup - dia menghibur dirinya sendiri. Dan kali-kali lainnya dia menghibur dirinya sendiri. Jari-jari tak mau diam, mau membuncah lewat tarian di atas tuts-tuts keyboard laptop yang dari pertama kali dia bisa membaca sudah familiar, sudah jadi satu-satunya cara dia menjadi dirinya - meski kerap jadi topeng dia sembunyi-sembunyi. Setidaknya, dia punya menulis. Menulis yang kadang berpura-pura - makanya sulit novel-novelnya itu selesai, dan menulis yang sungguh-sungguh oleh hatinya seperti postingan-postingan semacam ini di blognya sejak SMP yang sudah berdebu sejak entah kapan dia terakhir posting. 

Dia menulis ini agar ingat tentang patah hatinya, agar ingat tentang perpustakaan, tentang barista, pustakawan, perasaan-perasaan tak karuan yang mengalir di sana, jalan-jalan dia berangkat dan pulang, segala-galanya, segala-galanya. Agar suatu hari dia rindu, tak perlu dia sedih hanya karena tak ingat apa yang dia rindukan. Setidaknya dari sejumput cerita yang dituliskannya hari ini, dia bisa membaca, membaca, membaca, mengingat apa saja yang pernah-pernah dia lakukan, tempat-tempat yang hatinya sempat singgah sementara lalu pergi.