21 Juli 2026

Tentang Perpustakaan

Akhir-akhir ini, berseliweran berita bahwa Perpusnas tidak lagi mendistribusikan buku-buku gratis ke beberapa daerah karena pengurangan anggaran. Perasaan marah dan sedih campur aduk. MBG, Kopdes, korupsi; praktik-praktik jahanam yang merugikan masyarakat justru dilanggengkan. Seorang tante membagikan video seorang pejabat membagikan uang modal bagi seorang mahasiswa yang harus berjualan keliling kampus untuk membantu orang tuanya. Kubayangkan perasaan terharu, miris, bangga, kagum, yang dirasakan para penonton video itu - termasuk aku. Namun, marah pun menelisik - mendominasi. Karena si pejabat tidak punya jawaban untuk pertanyaan si mahasiswa: "bagaimana caranya agar bahan baku tidak terus-menerus naik; terutama bagi pengusaha kecil menengah seperti saya?" Entah apa yang terjadi setelah video itu - baik sangkaku adalah si pejabat pada akhirnya menjawab pertanyaan itu, lalu berkoordinasi dengan berbagai sektor dan melakukan berbagai upaya menekan kenaikan harga bahan baku bagi para pengusaha UMKM; buruk sangkaku adalah si pejabat memang tak punya jawaban: membagikan-bagikan uang - yang rupanya sudah beramplop-amplop disiapkannya untuk setiap peserta seminarnya yang cerita hidupnya terasa memilukan, mengujarkan kata-kata manis - mengalihkan perkara dari permasalahan yang sesungguhnya; adalah satu-satunya - dua-duanya - hal yang dapat dilakukannya, sehingga publik tersentuh; terenyuh; menjunjung tinggi kebaikannya; menggadang-gadangnya sebagai pemimpin berbudi yang pantas menjabat selama-selama-lama-lamanya. 



Sementara di sini, di Bankstown Library, Australia, tempatku menulis; mengolah emosi: gundah, gelisah, aku bisa dengan seenaknya melihat-lihat ratusan koleksi novel teranyar terbaik terawat di rak-rak dalam gedung berarsitektur modern berlangit-langit tinggi berdinding serba kaca; meminjamnya; membacanya; mengembalikannya karena tidak suka dengan gaya penceritaan si penulis di novel itu - terlalu banyak adegan seks; dan meminjam lagi novel lain yang lebih kusukai, yang lebih sesuai dengan gaya penceritaan kegemaranku - yang juga baru kuketahui setelah sekian buku yang cocok-tidak-cocok kulahap selama masa tinggal kami di negara ini; kemewahan lainnya dari tinggal (sementara) di negara yang pajaknya kembali ke kepentingan publik alih-alih ke perut gentong para pejabatnya. 

Cara para pejabat kita bekerja adalah: entah dengan berjoget ria sambil mengolok-olok rakyatnya - secara langsung di podium atau secara tidak langsung dengan menyimpan emas 74 kilogram di brankas hunian pribadi, atau dengan dengan bermain peran sebagai aktor gadungan dalam pertunjukan jual-beli kasihan demi pencitraan. Maka, senyaman-nyamannya aku oleh suasana hidup di negaraku sendiri; oleh makanannya yang paling enak di dunia; oleh keluargaku yang semuanya di sana; oleh kebersyukuran dan kecukupanku akan diriku sendiri dan situasi hidup yang kujalani selama ini, mustahil untukku tidak menyimpan kepesimisan kronis di dalam hati; mustahil untukku tidak marah, sedih, oleh kondisi negaraku sendiri yang aku tahu secara objektif sudah tidak dapat tertolong lagi. Maka, keputusanku untuk tidak punya anak menjadi semakin ajeg seiring peredaran kabar buruk yang tak ada hentinya. Itulah caraku bertahan hidup; bertahan waras: menjaga hidupku sendiri - hidup kami yang sudah terlanjur hidup ini tetap berkecukupan hingga usia kami yang sampai entah. 

Setiap sesi dengan klien-klienku; yang mengeluh tentang kondisi negara ini, aku tidak bisa membantah. Aku malah ingin semakin menambahkan kedepresian mereka, karena begitulah juga yang kupikirkan. Namun, di sisi lain, mustahil untuk kita bisa hidup dengan terus-terusan terkungkung dengan pikiran yang seperti ini. Toh, memang sudah tidak bisa tertolong; toh, tidak ada yang bisa diubah lagi; jadi apa yang bisa kita lakukan itulah yang kita kendalikan - kembali lagi ke saran-saran klise dalam terapi yang itu-itu saja yang seringnya bosan - tapi memang demikianlah benar adanya - kuceramahkan di sesi-sesi dalam pekerjaanku yang mengambil untung dari penderitaan orang lain ini. 

Akhir kata, negara ini tidak tertolong lagi; benar, tapi, bukan berarti aku tidak menyayanginya. Benar, tapi bukan berarti aku lantas ingin melepas kewarganegaraanku dan tinggal selama-lamanya di Australia - toh, aku sudah sedang hidup di sini (selain karena alasan-alasan praktis lainnya yang memustahilkanku untuk tinggal di sini). Benar, tapi bukan berarti aku menyetujui olok-olok Bapak Presiden yang terhormat bahwa orang-orang pintar itu kalau tidak suka ya sudah tinggal cari saja negara lain untuk tinggal. Andaikan hidup semudah itu; andaikan benar semua ini hanya permainan ular-tangga - naik, turun, lalu kita mulai lagi; andaikan benar manusia tidak berperasaan, tidak berkeinginan, tidak berpikiran, tidak berkomunitas, tidak terjerat ini-itu, tentu saran Bapak yang terhormat akan dengan senang hati saya lakukan. Namun, nyatanya tidak. Nyatanya saya terjerat sekaligus merdeka. Hidup dalam keyakinan yang baiknya kita yakini 50:50 - ceramah yang itu-itu saja dalam sesi-sesi psikoterapi pekerjaanku.  

Pada akhirnya, kita akan mati dan terurai tanah; begitu pula Bapak Presiden yang terhormat. Aku bahkan tak lagi berdebar-debar; khawatir atas skenario bagaimana kematianku nanti; bagaimana negara ini kolaps. Toh, satu kenyataan itulah yang justru paling benar. Sebaik-baiknya kuusahakan menjalani hidup yang tak jelas juntrungannya ini sambil berpura-pura jadi yang paling tahu dalam sesi-sesi psikoterapi yang per jamnya kutarik uang-uang dari rekening orang-orang itu, sambil cemas pada hari-hariku cemas, sambil sakit kepala dan sakit perut pada hari-hari mendekati dan saat menstruasi, sambil bergembira; lalu tak peduli; lalu menangis; dan segala sesuatunya yang aneh-aneh dan bertolak belakang di antara waktu saat ini hingga menunggu mati. 

Intinya, negara ini hebat; negara ini kusayang; tapi ini negara ini adalah segala yang tapi-tapi yang tadi sudah panjang lebar kudeskripsikan di atas. 

18 Juni 2026

Kesedihan di Bankstown Library

Mimpinya tadi malam begitu jelas. Lembab, gerah udara tropis menyentuh kulitnya - bukan dingin, kering negara dia sekarang tinggal sementara. Dia pulang, di rumah, di kota yang tadinya bukan rumah tapi kini jadi rumah. Adiknya menunggui kamar tidurnya, memasang pernak-pernik yang ada tempelan nama-nama adiknya. Dia marah, bilang bahwa ini masih kamarnya. Lalu, kesedihan menguasainya. Dia sedih - tidak menangis, dalam mimpi. Dia terbangun, menyadari dia masih di kamar sepetak yang disewanya dan suaminya; yang ranjang di samping kompor, yang di samping meja makan yang juga meja kerja, yang di samping kamar mandi dan juga tempat buat hajat. Dia masih di Bankstown, Western Sydney, Australia, belum di Jogja, Semarang, apalagi Banjarmasin kota kelahirannya. Adiknya tidak ada, kamar indekosnya di Tembalang sudah hampir sepuluh tahun silam ditinggalkannya - kamar yang muncul dalam mimpinya. Kelegaan menggantikan kesedihan; yang sudah beberapa hari terakhir ini diam-diam menelisik sanubarinya. Entah apa sebabnya, padahal tadinya dia benci kota ini; benci negara ini; segala sesuatu tentangnya: kesulitan groceries shopping berjalan kaki dengan menenteng tas berat penuh di pundak alih-alih di antara kakinya di sepeda motor, kesulitan hari-hari memasak sarapan makan siang dan makan malamnya sendiri alih-alih membeli ini-itu yang nikmat sedap dengan harga murah, kesulitan berbagi satu ruangan sempit dengan orang asing yang kini adalah suaminya, dan kesulitan-kesulitan lainnya. Kesulitan-kesulitan itu, kini berganti kesedihan; kesedihan akan sesuatu yang belum terjadi - yang niscaya terjadi: dia akan pergi dalam lima bulan, untuk seterusnya, untuk selama-lamanya, barangkali tidak lagi akan memiliki rutinitas yang begini, yang sama persis, yang sehari-hari menjaganya waras. 

Di sudut Bankstown Library, dia diam menulis postingan ini. Diam-diam menangis, tahu-tahu air mata luruh - barangkali sudah lama ditahan. Berjalan kaki di bawah langit biru cerah terang benderang, di antara pepohonan yang bersemi pada semi; yang masih bersemi pada gugur; yang baru gugur pada musim dingin - yang ranting-ranting kurusnya menengadah meski gundul pada hari-hari belasan derajat seperti malam-malam awal Juni ini. Seorang barista dia senangi: manis senyumnya, ingat pesanannya, tersenyum setiap saat pada setiap orang - dia berbunga-bunga pada setiap Senin laki-laki itu bertugas dan agak sedih ketika yang dicari tak ada - anak SMP yang kasmaran oleh kakak kelas. Perpustakaan yang koleksinya dia amati tanpa pengetahuan apa pun, yang bukunya dia pinjam setelah pada satu Maret tahun lalu dibuatnya kartu anggota - resmi seolah permanent resident. Dia pulang membawa buku seolah perpustakaan itu miliknya. Pada siang hingga sore, kadang sampai malam, betah dia berlama-lama di satu sudut lantai tiga yang paling strategis; memandang ketiga lantai perpus dengan pemandangan kolam buatan, lapangan, anak-anak bermain, terang berganti gelap, di dalam perpus sepasang orang menyelesaikan puzzle, orang-orang membaca dan bekerja dengan laptop, sementara dia menulis, menulis, menulis, tak selesai, selesai, selesai. Para petugas perpus yang galak, yang baik, yang ramah, yang gendut pakai tongkat bantu, yang tua selalu menegur orang berisik, yang laki-laki senang bicara sendiri. Jalan-jalan menuju dan pulang perpus dengan telinga tersumpal - musik-musik yang sedang digandrunginya - mood-nya tergantung pada musik apa yang tersetel atau sebaliknya. 

Dia teringatkan, bahwa dalam lima bulan, dia harus meninggalkan semua ini untuk selama-lama-lamanya. Tak ada lagi rutinitas seperti ini, tidak ada lagi waktu-waktu menyendiri serba damai yang pada itulah dia menjadi dirinya sendiri, bereksperimen dengan novel-novel tak pernah selesai yang hanya menumpuk di drive-nya, mengamati orang-orang orang-orang, orang-orang yang datang pergi menetap - menetap seperti seorang lelaki India yang minta difotokan bersama ayahnya karena baru saja disumpah sebagai permanent resident. Ucapan selamat bertukar terima kasih. Ponsel baru, kinclong, keluaran terbaru paling canggih. Sementara, pikiran terseret pada tahun-tahun yang dihabiskan lelaki itu merantau dari kampung halamannya, bekerja siang-malam, bekerja siang-malam, demi tinggal di negara yang lebih baik, menghidupi hidup yang lebih baik, membanggakan orang tua - seorang ayah yang jauh-jauh datang dari luar negeri demi menyelamati anaknya yang jadi permanent resident. Betapa menyentuh, betapa terenyuh. Betapa dia tersadar dia tak punya itu. Dia tak punya apa-apa yang permanen. Dia hanya berpindah-pindah, berpindah-pindah-pindah-pindah. 



Maka, dia bersedih, menangis di tempat umum, di satu sisi yang tertutup pilar-pilar tinggi gedung perpustakaan, di depan sepasang tua yang berkali-kali menelepon entah petugas apa; telinganya tersumpal musik-musik sedih menyenangkan yang baru ditemukannya di platform streaming. Dia sedih. Dia tak tahu tak punya rumah membuatnya sedih. Barangkali sudah lama dia sedih, tetapi baru ini dia tersadar, gara-gara lelaki India yang hingar-bingar itu. Namun, tak apa. Dia putuskan untuk tak apa-apa. Karena, menurut suaminya, tahun depan mereka akan sudah punya rumah; dia bahkan tak terlalu senang - tak terlalu girang gegap-gempita dengan ide punya rumah yang menghabiskan uang (walau memang dari pajak orang-orang se-Indonesia uang itu didapatkannya - terima kasih). Tak menyangka dia akan sesedih ini oleh sebab negara yang menyebabkannya berat hati dan bolak-balik bolak-balik meninggalkan negara, kota, orang-orang yang dikiranya akan lama ditinggalkannya, tau-tau setiap semester dikunjunginya. Sekarang.. entahlah. Barangkali, memang sudah waktunya, sudah masanya. Dia tak pernah permanen. Hanya kutu loncat dari satu batu ke batu lain, menaruh hati di satu tempat lalu tempat lain, membangun rutinitas pengelabu dirinya sendiri seolah selamanya padahal sekejap mata. Akhir tahun ini, dia akan mengejapkan mata lagi. Lalu tahun depan, lalu tahun depan, entah bebila rumah yang katanya permanen, yang katanya miliknya - milik kita, itu dimulai, dibangun, diselesaikan, ditempati. Dia tak begitu paham, dia tak begitu ambil pusing, tapi nyatanya dia pusing, berkunang-kunang, sampai sakit hati, dada sesak, menangis tak karuan di depan pasangan tua yang sibuk sendiri. 


Ya sudahlah. Namanya juga hidup - dia menghibur dirinya sendiri. Dan kali-kali lainnya dia menghibur dirinya sendiri. Jari-jari tak mau diam, mau membuncah lewat tarian di atas tuts-tuts keyboard laptop yang dari pertama kali dia bisa membaca sudah familiar, sudah jadi satu-satunya cara dia menjadi dirinya - meski kerap jadi topeng dia sembunyi-sembunyi. Setidaknya, dia punya menulis. Menulis yang kadang berpura-pura - makanya sulit novel-novelnya itu selesai, dan menulis yang sungguh-sungguh oleh hatinya seperti postingan-postingan semacam ini di blognya sejak SMP yang sudah berdebu sejak entah kapan dia terakhir posting. 

Dia menulis ini agar ingat tentang patah hatinya, agar ingat tentang perpustakaan, tentang barista, pustakawan, perasaan-perasaan tak karuan yang mengalir di sana, jalan-jalan dia berangkat dan pulang, segala-galanya, segala-galanya. Agar suatu hari dia rindu, tak perlu dia sedih hanya karena tak ingat apa yang dia rindukan. Setidaknya dari sejumput cerita yang dituliskannya hari ini, dia bisa membaca, membaca, membaca, mengingat apa saja yang pernah-pernah dia lakukan, tempat-tempat yang hatinya sempat singgah sementara lalu pergi.

5 Desember 2025

About Her

Halo,

Pemilik blog ini adalah perempuan, usia tiga puluh. Pas. Bulat. Tegap. Tidak kurang, tidak lebih. Tidak condong ke kanan, tidak condong ke kiri. Lebih hampir dua bulan tepatnya. 11 Februari ulang tahunnya. Dia adalah psikolog klinis yang pasang surut karirnya selama tiga tahun terakhir. Dia ingin menolong orang, tapi dia juga harus menolong dirinya sendiri. Maka, setelah dia melarikan diri dari tempatnya terakhir bekerja, kini dia punya praktik mandiri: kalistapsikolog.com. Dia adalah penulis sebelum dia adalah psikolog. Maka, untuk menyembunyikan dirinya yang menulis hanya untuk mencari uang dari dirinya yang psikolog adalah misi yang muskil. Maka, inilah dirinya, di blog ini. Dirinya yang sesungguhnya, yang bukan di ruang praktik, yang bukan di media sosial, yang sesungguhnya. 

Dia menikah dengan seorang lelaki baik hati sejak 2023. Semakin hari semakin dalam kebersyukurannya terhadap kehadiran lelaki itu dalam hidupnya. Mereka berpidah-pindah Jogja-Sydney. Semoga tahun depan suaminya sudah selesai kuliah dan bisa membangun rumah bersama (amin). 

Dia bermimpi menjadi penulis, tetapi hingga hari ini tak satu novel pun berhasil diselesaikannya. Dia banyak alasan, seperti orang-orang kebanyakan. Dia perfeksionis, seperti banyak orang-orang. Dia sudah belajar menjadi sedikit saja perfeksionisnya, tapi apa daya, barangkali, memang demikianlah dirinya. Maka, pada usianya yang sudah tiga kepala ini, dia sebenarnya bertekad ingin menyelesaikan novelnya. Novel yang ceritanya tentang apa pun belum berani dia ceritakan ke dunia. Dia bicara pada beberapa orang tentang mimpinya, meski hati kecilnya selalu takut gagal. Sekarang, dia bercerita di blog ini, meski barangkali tidak ada yang membaca (adakah?). 

Demikian perkenalan ini dibuatnya. Lama sudah dia tak menulis di sini. Di sini. Dia menulis di banyak tempat: jurnal pribadi; novel yang belum selesai; cerpen yang ditolak media, tapi sudah lama tidak di sini. Maka, dengan perkenalan diri ini, dia ingin menulis lagi di sini, sepuas-puasnya, seluas-luasnya, sebagaimana blog ini telah mewadahi berbagai pikiran dan pasang-surut hidupnya sejak dia SMP (post-post lama tentu sudah diarsipkan). 

Maka, demikianlah, kali ini sungguh-sungguh. Terima kasih. Selamat membaca. :)

Salam,

Kalista

27 Mei 2024

Nonton Lampu Warna-Warni

Perempuan yang tadinya keterlaluan ridunya pada rumah, kini kembali jauh dari peradaban. Berduaan dengan suaminya yang sedang belajar. Lagi-lagi, tinggal di kubus yang bahkan trapesium, hanya saja dengan teras beserta sejumput taman dan pemandangan langsung ke lalu lintas yang dilewati bis yang haltenya hanya kurang dari sepuluh langkah malas. Dia sempat pulang karena merana di negeri orang. Suaminya pun merelakannya pulang, karena berdua mereka saling menyakiti. Namun, kali ini, mereka berdua lagi. Tiga bulan berlalu masing-masing. Minggu ini, minggu kedua mereka sama-sama. 

Sydney, 25 Mei 2024, menonton lampu warna-warni di tengah kota.

Saking hebat syukurnya, perempuan itu menangis sesenggukan saat suaminya pergi ke kampus pada Senin pagi. Ditangisinya setiap kasih dan sayang yang tak henti-henti curah dari setiap tindak-tindak laki-laki yang kurusnya keterlaluan itu, hingga nyaris tak mampu ia menggendong istrinya sendiri. Ia tak lagi ingin pulang. Ia hanya ingin sesenggukan atas kasih dan sayang yang terlalu curah dan tumpah dari sepasang lengan panjang yang setiap sendi dan kulitnya mencuat terlalu tajam itu. 

Sepasang cium mendarat di pipinya, ketika kaki yang semangat itu telah terbungkus rapi kaos kaki beserta sepatunya. Tengkuk tempat aroma dan hangatnya bersarang, dihidunya habis-habisan meski tak kunjung habis. Mereka saling tukar kata-kata manis, lalu melambai hingga yang bersemangat itu lalu, dan yang mabuk kepayang itu rebah nyaris pingsan. Ditemani penanak nasi yang lebih andal menunjukkan waktu ketimbang jam dari ponsel merek tercanggih apa pun di seluruh dunia, perempuan itu tahu-tahu diselubungi selimut hangat yang merengkuhnya dari satu sudut dalam raganya. Lalu, berlalu-lalang sepasang kecup lain yang lumer di bibirnya tadi malam, aroma bawang dan ribut-ribut penggorengan nasi goreng kemarin petang, pegal-pegal kaki kesemutan menuju swalayan kemarin siang, dan ucap-ucap acak tentang dari mana datangnya penyakit jiwa kemarin sore: kesepakatan ahli atau alamiah. Leburlah semua menjelma buliran senang yang keterlaluan, sampai terisak-isak. 

Diputarnya sekali lagi senang yang dua puluh empat jam terakhir ini dianugerahkan padanya. Justru makin heboh raungan yang tadinya sekedar isak. Rupanya, tak lagi ia kepusingan melalangbuana mencaritahu untuk apa manusia diciptakan, karena sudah cukup tahu ia diambung ketinggian oleh limpahan terima serta kasih yang tahu-tahu muncul di hidupnya, sewujud makluk berkaki dan lengan panjang serta tajam dan cungkring bernama suami itu. Ia teruskan saja menangis berlatar deru mesin bis biru bersponsor mie instan dan truk gandeng pindah rumah dari luar dinding kaca kamar mungilnya. Ia teruskan, karena senyum itu terbit tanpa diminta. Pipinya masih ketetesan isak, namun bibirnya tertarik ke sudut-sudut yang di luar kendali. 

Tangisnya berhenti. Diputuskannya untuk melanjutkan kesenangan kecil yang dipeliharanya sejak hari pertamanya sekolah dasar: menulis. Disayangani kesayangan mungil itu, ditimang-timangnya dengan jejalan huruf-huruf kecil dan sesekali kapital, dan lagi-lagi, ia keheranan akan kekuatan magis yang disuguhkan ketak-ketik jemarinya di papan ketik berisik pada layar polos membosankan yang tahu-tahu penuh ocehannya itu. 

17 Oktober 2023

Hampir Sebulan

Sudah hampir satu bulan dua orang itu duduk-duduk dan tidur-tiduran di tempat asing. Bumbu instan yang mereka beli berlusin-lusin dari toko Asia terdekat, nyaris tanpa sisa dalam kurun waktu seminggu. Belum. Mereka belum sanggup makan roti kebanyakan isian itu. Satu waktu, mereka masih menggelandang, pindah hotel ke hotel, maka makan roti adalah satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup. Berkaca-kaca sepasang mata mereka, saking hambar rasa lidah mereka. Setelah hotel terakhirpenginapan dengan empat ranjang tingkat sekamar, delapan penghuni (empat putih, tiga coklat, sisanya sawo matang dan kuning), dan dua penginapan sebelumnya yang sempitnya bukan mainmereka akhirnya bisa berbaring tanpa khawatir nanti harus geret-geret koper ke mana lagi. 

Jauh-jauh hari sebelum mereka tiba di tempat asingsaat mereka masih santai-santai di tanah air menikmati lele penyet dan telur gulungmereka sudah cari-cari tempat tinggal. Saat sudah tiba, mereka mampir ke tiga calon tempat tinggal dan selalu gagal dapat yang cocok. Satu waktu, mereka nyaris menyerah: telapak tangan merah padam akibat menggeret koper di tanjakan; otot-otot punggung keseleo akibat kejauhan menggendong ransel; dan isi rekening menipis drastis dalam tempo singkat. Akhirnya, mereka tiba di calon rumah yang akhirnya sudah hampir tiga minggu ini mereka nobatkan sebagai tempat mereka pulang. 

Sebelum itu, salah satu dari mereka, Si Perempuan, sempat sesenggukan berhari-hari akibat rindu. 

"Betapa sulit hidup di sini," jerit benaknya. 

Ia tidak suka harus jalan kaki berkilo meter hanya untuk cari daun bawang dan beras, ia juga tidak suka harus bergumul di balik selimut dan pakai kaos kaki setiap saat, tidak suka menghabiskan uang dengan nominal tidak masuk akal hanya untuk bayar tempat tinggal per minggu, tidak suka jauh-jauh dari adik kecilnya yang bisa jadi kebingungan mau main ke mana tanpa kakak perempuannya. Sekian ribu daftar hal yang tidak ia suka berjejalan di benaknya, menimbulkan tangis yang baru habis setelah napasnya jadi sesak. 

"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Kalau kamu pingin, kamu boleh pulang," Si Laki-laki menenangkan. Tuturnya lembut, pelan, tubuhnya tak jauh-jauh dari rengkuhan Si Perempuan yang masih sesak napasnya. Ia khawatir, ia ingin menyelamatkan perempuannya, meski ia pun tak yakin bagaimana caranya bertahan seorang diri. 

Siang perlahan jadi gelap, awan bergumpalan dengan semburat oranye di sekujur tubuhnya, deru pesawat mondar-mandir dengan lampu kelap-kelip. Dua orang itu duduk-duduk di meja kursi mereka yang baru sampai tiga hari lalu, menyesap susu dari gelas masing-masing, menyeruput tetes terakhir kuah rawon bumbu instan, sambil tak lupa takjub pada lukisan agung di balik jendela rumah mereka. 

Pada siang yang lain, mereka berbaring di bawah pohon beralaskan kain biru yang dipakai Si Perempuan untuk menari Bali 13 tahun yang lalu, mereka bawa sebungkus roti tawar gandum yang tinggal empat lembar, sebotol madu yang sisa separo, dan sebuah buku dari pasar kaget barang antik dekat rumah yang rupanya buka setiap akhir pekan. Di bawah bukit, pasir putih selembut sutera jadi lahan berjemur dan bermain voli. Terik berganti sepoi-sepoi angin yang membuat bulu kuduk berdiri. 

Pada siang yang lain, Si Perempuan menunggu air rebusan ayam mendidih sembari menulis di jurnal oranye-nyahadiah ulang tahun yang ke-27 dari Om dan Tante. Ia sampaikan pada Si Oranye, bahwa tempat asing ini akan ia nobatkan jadi rumah barunya, setidaknya selama empat tahun ke depan. Rumah beserta semua gumpalan awan bersemburat oranye dan deru lalu lalang pesawat di jendelanya, beserta semua kilometer yang harus ditempuh untuk beli daun bawang dan beras, beserta semua telapak kaki dan tangan yang menggigil meski sudah bergumul di selimut. 


Tentu ia masih rindu. Teramat sangat. Ia kini mengaku bahwa tubuh dan benaknya terbuat dari rindu. Ia akan lelap, makan, main, kagum, dan bercinta dengan jutaan rindu di tubuh dan benaknya. 

Senja itu datang lagi beserta semburatnya. Si Laki-laki duduk lagi di samping Si Perempuan. Pesawat yang lalu lalang tak henti bergemuruh. Si Perempuan bersandar lagi di bahu lelakinya, mengijinkan dirinya untuk menikmati apa yang ia punya hari ini. 

28 Agustus 2023

Teriknya Semarang

Perjalanan tiga hari itu bermula di salah satu jalan ter-sibuk di Jogja. Kami, yang baru menikah tepat tiga minggu, duduk-duduk sambil menyesap kopi overpriced di sebuah kedai kopi. Sepasang suami istri yang pernikahannya sudah seribu kali lebih lama dari kami, berhenti persis di depan kedai. Kami keluar membawa gelas plastik masing-masing yang masih ada setengah isinya, lalu masuk ke mobil. 

Kami tiba di kota yang naik-turun tanahnya memabukkan, lalu terlelap di dua kamar hotel bintang dua yang bau apaknya tak kunjung hilang. Paginya, kami yang baru menikah, cek darah, paru-paru dan mata di rumah sakit demi diijinkan masuk ke Australia bulan depan. Lalu, kamidua pasang suami istrilapar, sarapan dan jalan-jalan. 

Suami istri yang lebih tua—masing-masing setengah abad usianya itumengikik sambil saling cubit. Kami—yang lebih muda setengahnyaikut mengikik, menonton mereka sembari berfoto ribuan kali. Suami istri itu bukan orangtuaku—bukan nama mereka yang ada di akta kelahirankutapi mereka mengirimkan kado pernikahan yang diiringi sepucuk ucapan berawalan, 

"Untuk, anakku sayang." 

Ucapan singkat, tapi menyebabkan air mata berhamburan. Ucapan itu kini bersemayam di dompet kelabu yang kudapat dari suvenir pernikahan orang lain, bersama ucapan-ucapan lainnya yang kuterima pada pernikahan kami. 


Siang itu, kami jalan-jalan di kota terlama se-Semarang. Makan es krim 8.000-an, menelusuri troto
ar di bawah terik, tanya-tanya polisi pariwisata perihal titik ter-instagrammable, lihat-lihat isi gereja termegah, lalu berteduh di kedai kopi untuk minum es teh leci dan makan pisang goreng. Setelah terik agak tidak terlalu terik, pasangan itu meninggalkan kami yang muda di tepi jalan. Mereka ingin melanjutkan perjalanan ke kota lain, begitu pula dengan kami. 

Diam-diam kami bahagia dan memanjatkan puji syukur, tapi sudah cukup saling tau, jadi tak saling bicara soal itu. Mereka menjauh dan menghilang ke selatan, kami menunggu perjalanan selanjutnya ke timur. Kami akan berpisah sebentar dan akan bertemu lagi saat sudah sama-sama pulang nanti. 

Mereka akan ada di sana, tepat dimana aku menemui mereka pertama kali: saat usiaku tiga atau empat, berduaan dengan adikku yang masih belum banyak rambutnya, bernyanyi di depan cermin pada hari pernikahan mereka. Hampir dua puluh lima tahun yang lalu. Apa yang kami senandungkan kala itu bahkan otak bocah kami tak bisa ingat. 

Namun, pada siang terik itu, setelah beberapa tawa yang pecah akibat lelucon di sepanjang jalan dan beberapa tawa lainnya di sudut gedung terbengkalai di Kota Lama, kami tau kami sama-sama akan mengingat hari ini dan saling puji. Betapa hebat dan hangat hadirnya kami bagi satu sama lain. Kota Lama dengan segala kemegahannya pun mengangguk setuju khidmat, telah disaksikannya kelimpahan sayang, tawa, dan nikmat yang kami tukar. 

"Makasih, Om dan Tante," begitu ujarku sambil menyalimi mereka, sebelum kami berpisah. 

Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk segala sayang dan hangat yang menyertai hadirnya mereka sejak kami pertama bertemu.

"Hati-hati di jalan," tambahku.

Teriknya Kota Semarang dan seisinya pun mengamini, turut mendoakan keselamatan bagi mereka. 

17 Agustus 2023

Agustus

Agustus itu kami saling kenal. Dia duduk paling belakang, aku paling depan. Kami bercampur aduk dengan sekian puluh kepala lain, menghadap papan tulis yang sama dan pengajar paruh baya yang sama. 

Suatu malam, aku mendapatkan pesan sok akrab dari seseorang yang grup WhatsApp-nya sama denganku. Kulihat dia punya foto profil sok misterius, tapi punya ajakan yang cukup menggiurkan. 

"Ke sini yok," katanya tanpa preambul, diiringi sebuah foto poster pameran buku.  

Malamnya, dia muncul di jalan gang depan kosku. Aku muncul dari balik pagar membawa helm dan jaket merah. Kami tiba di pameran buku berduaan, seperti muda mudi pada umumnya yang sama-sama suka buku tapi belum tentu punya uang untuk beli buku. 

Selain pameran, kami mampir makan ke macam-macam tempat, termasuk ke kantin sekolah tempat kami makan bersama teman-teman sekolah yang lambat laun menyadari ada sesuatu di antara dua manusia ini.  


"Aku nggak mau nikah," ujarku padanya. 

Kami sudah jadi pasangan kekasih. Sudah setahun sejak sekolah kami tutup akibat virus dan aku pindah sekolah. Kami sudah jadi pasangan beberapa bulan setelah Agustus itu. Kawan-kawan kami pulang ke kampung masing-masing, meninggalkan kantin tempat kami sekelas tadinya menguasai sederet dua deret meja panjang hanya untuk makan sepuluh menit dan ngobrol tiga puluh menit. 

Dia mengangguk, bilang bahwa dia pun begitu. Tidak ada minat untuk menikah. 

"Yang," panggilnya saat kami sarapan di Flamboyan, hanya dua minggu sebelum Agustus. 

Bukan. 

Bukan Agustus yang itu, tapi Agustus yang ini. Tidak ada lagi virus, kami semua sudah lepas masker. Kawan-kawan kami sudah lulus. Dia sudah lulus dan dapat pekerjaan impiannya. Aku lulus awal tahun di sekolahku yang baru. Dia tunjukkan layar ponselnya ke depan wajahku. 

Sumpah mati jantungku berlompatan dari tempatnya bersarang. Isi layar itu biang keroknya: pengumuman beasiswa di negeri orang dengan kata 'selamat' dan nama kekasihku. Hurufnya kapital, besar-besar, mustahil salah lihat. 

"Jadi?" tanyaku terbata. Bukannya aku tidak tahu, tapi rasanya terlalu sulit berpikir. "Kita jadi nikah?"

Dia mengangguk sambil masih menatap layar yang sama, kehabisan kata-kata.

Empat Agustus, kami duduk bersebelahan, masing-masing tanda tangan di buku yang nama kami ditulis di dalamnya dan diakui negara bahwa pernikahan telah dilangsungkan terhadap kami. 

Agustus ini, kami akui bahwa kami tidak tahu apa-apa. Bertemunya kami dengan satu sama lain membawa kami pada keputusan-keputusan yang kami pada Agustus-agustus lalu tidak berminat untuk putuskan. Mulai Agustus ini, mungkin kami tidak tahu apa lagi yang akan kami "tiba-tiba" putuskan pada Agustus-agustus depan. 

Namun setidaknya, satu yang kami tahu, 

bahwa kami sudah satu. 

Seiring disalaminya kami oleh para tamu di pelaminan, terselip doa dari setiap semoga yang diucapkan para tamu, "semoga tuntung pandang." Belakangan, ibu bilang bahwa artinya "semoga sampai selesai". 

Kupandangi lelaki misterius yang katanya sudah jadi suamiku itu. Setelannya necis, peluhnya menitik, wajahnya asing sekaligus akrab, senyumnya canggung sekaligus menular. Kusinggungkan senyum yang sama padanya. Diam-diam kuamini sungguh-sungguh doa-doa dari para tamu. 

"Tolong jaga kami tetap satu hingga akhir," bisikku entah pada siapa. 

Sekuat tenaga kutahan gelombang panas dikedua ujung mataku. Suamiku tersenyum padaku. Istrinya ini pun tersenyum padanya. Kami saling tahu sesuatu di ulu hati kami sama-sama menghangat.  

"Terimakasih," batinku padanya. "Terimakasih telah datang ke hidupku."

Dia mengangguk seolah mendengarku. Tangan kami berpagut. 

Para tamu menyalami dan kami pun berfoto bersama.