3 Januari 2018

Baju Hitam Mau Liburan

Image result for clothes
Pada suatu malam, ada seorang pemilik baju bernama Siti. Ia baru saja bangun dari tidurnya yang tidak pada jam manusia pada umumnya. Ia bangun untuk menyadari banyak hal yang belum dilakukannya. Seperti mengepak pakaian untuk dibawa keesokan hari yang rupanya sudah jadi hari ini. Mengepak barang-barangyang seharusnya tidak akan menghabiskan waktu se-lama itu. 

"Aku cuman akan pergi tiga hari. Aku tidak akan membawamu terlalu banyak," kata Siti kepada selembar baju kaos hitam di lemari. 

Baju hitam itu mengangguk, "ayo cepat, rapihkan aku ke dalam tas. Jejalkan aku bersama sabun pencuci wajah, pakaian dalam, kaos kaki dan sumpalan telinga yang akan kau bawa nanti!" Rupanya baju itu sudah tidak sabar. Sayangnya, Siti punya terlalu banyak energi malas yang membuatnya malah menulis sebuah postingan tentang malasnya ini. 

Karena Siti tak kunjung datang untuk mengepak dirinya, si baju ini pun turun dari singgasananya di dalam lemari. Ia gotong royong bersama baju-baju lainnya untuk membuat simpul yang sangat panjang, sehingga mereka bisa mencapai ransel yang teronggok di atas lemari. Ransel itu menimpa tubuh mereka dari atas, tapi mereka bisa menyelinap dengan mudah dari reruntuhan itu. Dibukanya resliting ransel, lalu mereka pun melipat tubuh mereka sendiri, menggulung tubuh mereka dan berbarislah mereka dengan rapi di dalam ransel. Baju hitam yang sejak tadi memberi aba-aba pada teman-temannya, mendapat giliran terakhir untuk masuk ke ransel setelah memastikan bahwa semua teman-temannya telah mendarat di dalam tas dengan sempurna. 

"Lihat, kami sudah rapi di sini. Kau harus mengepak barang-barang lainnya. Meski di sini sudah cukup sesak, tapi kau juga butuh handuk, sikat gigi dan charger. Oh iya jangan lupa juga beli paket data, bukankah kau tidak bisa hidup tanpa internet?"

"Huh siapa bilang aku selalu butuh internet. Aku bisa saja bertahan tiga hari tiga malam tanpa membuka ponselku." Siti yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh selembar baju, merasa semakin malas untuk mengepak hal-hal lain yang disebutkan si baju itu. Ia tidak terima dinilai sebagai manusia yang diperbudak oleh internet.

"Jadi, kau mau pergi apa tidak? Cepat berkemas! Jangan sampai aku keluar dari ransel ini hanya untuk mengepakkan barang-barang yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu," kata si baju. 

Si pemilik sangat benci dengan si baju yang sangat cerewet. Tahu apa benda itu tentang tanggung jawab? Sok tahu. "Kalau kau mau cepat-cepat pergi, pergilah sendiri. Tidak usah bawa-bawa aku. Aku tidak butuh pergi kema-mana bersama benda berisik sepertimu." Si pemilik tahu bahwa si baju itu tidak akan bisa berkutik tanpa dirinya yang pergi kemana-mana. Si baju tidak punya tiket kereta atas namanya. Oh, ia bahkan tidak punya nama. Menyedihkan. 

"Baiklah, terserah kau saja. Tapi kalau sampai kau terlambat, aku akan pergi sendiri."

Beberapa jam kemudian, rupanya Siti tertidur pulas. Baju-baju yang sudah terlanjur mengepak diri mereka di dalam tas pun menggeleng-geleng heran pada Siti yang ngorok saat tidur. Baju-baju punya tekad sangat bulat untuk pergi dari tempat ini. Bersusah payah mereka menyatukan tenaga untuk membuat ransel bergerak. Usaha itu pun membuahkan hasil. Mereka tiba di stasiun kereta api, meletakkan diri di salah satu kursi penumpang atas nama Siti dan berangkat menyambut hari libur. 

2 Januari 2018

Yang Kepalanya Meledak


Image result for malam tahun baru
Pada jaman dahulu kala, ada orang yang terkenal karena kepalanya yang meledak pada malam tahun baru. Namanya Mark. Mark adalah orang yang paling senang saat malam pergantian tahun. Ia jadi gegap gempita gara-gara kembang api yang indah itu. Ia juga senang berada di tengah-tengah lautan manusia yang memenuhi lapangan maha luas di ibu kota untuk menyambut tahun baru. Ia pun bahagia saat orang-orang saling mengucapkan selamat tahun baru, setelah jam menunjuk angka 12.

Namun, setelah malam tahun baru, kehidupan Mark jadi kembali menyedihkan. Ia bertanya-tanya kapan kaya raya tapi pekerjaannya begitu-gitu saja, ia bertanya kapan jodohnya datang tapi tak ada yang peduli. Akibat "kapan" yang menumpuk-numpuk itu, mata Mark tidak lagi bisa melihat. Satu-satunya yang bisa dilihat adalah tanda tanya yang sangat amat besar dengan satu kata yang amat besar pula, KAPAN? Akibatnya, kegiatan sehari-hari Mark pun kacau balau karena KAPAN? telah membuat matanya buta.

Mark pun ingat pada cita-cita masa kecilnya. Ia ingin menjadi pembuat kembang api. Kata Mark, dengan membuat kembang api, ia bisa jadi senang seperti pada malam tahun baru dan tidak perlu merenungi kebutaannya. Jadilah Mark seorang pembuat kembang api. Meski tak bisa melihat, bunyi ledakan kembang api itu bisa membuat Mark senang juga. Banyak orang yang memuji kembang api buatan Mark. Senang dipuji, akhirnya Mark pun memohon pada Dewa Tahun Baru supaya matanya dimampukan lagi untuk melihat kembang apinya pada malam tahun baru nanti. Meski senang dengan pekerjaannya, tapi Mark masih tidak mengerti mengapa Dewa tidak membiarkannya bisa melihat. Padahal, kalau bisa melihat pasti akan lebih banyak kembang api bagus yang bisa dibuatnya.

Setelah, menanti-nanti sepanjang tahun, malam tahun baru pun tiba lagi. Malam yang telah ditunggu-tunggunya sepanjang tahun. Tepat tengah malam, kembang api pun bersahutan dimana-mana.  Semua orang memborong kembang api Mark untuk diledakkan di halaman rumah bersama keluarga dan teman-teman. Mark tak meninggalkan lapak kembang apinya, ia masih menanti matanya pulih kembali. Sambil mendengar kembang api yang bersahut-sahutan, Mark semakin gelisah dan bertanya-tanya kenapa Dewa tak kunjung memberinya penglihatan.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, orang-orang sudah mengucapkan selamat tahun baru dan bunyi kembang api semakin meriah. Tiba-tiba, kepala Mark ikut meledak bersama kembang api. Tidak ada yang menyadari hal itu, karena semua orang sedang bersuka cita dan suara kembang api menutupi jeritan Mark. Konon katanya, kepala Mark meledak karena Dewa ingin menjawab pertanyaan Mark tentang tentang penyebab matanya yang buta. Dewa juga ingin memberi alasan jodoh Mark yang tak kunjung datang atau Mark yang tak kunjung kaya raya. Tapi ternyata, isi kepala Mark terlalu kecil untuk bisa mengerti penjelasan dari Sang Dewa yang sangat rumit. Malang nasibnya, meledaklah isi kepala Mark. 

27 Desember 2017

Karya Pertamaku

Karya pertamaku akhirnya lahir. Hari ini ia siap didistribusikan ke perpustakaan fakultas dan dosen pembimbing sebagai syarat yudisium. Karya ini sudah kukandung sejak Februari 2017 dan resmi lahir ke dunia pada 22 Desember 2017. Semoga bayiku ini panjang umur dan sehat selalu. Proses mengandung si bayi, seingatku, bukalah proses yang menyenangkan. Sulit menemukan kesenangan di antara tuntutan untuk cari jurnal kesana kemari, turun lapangan, uji coba, penelitian, hingga bab lima yang masih harus diobrak-abrik. Pada awal proses penulisan, tidak menyangka akan menulis bayi jenis begini. Tadinya aku punya rencana sendiri yang sudah kurancang bagus-bagus. Aku siap untuk bahagia dengan rencanaku itu. Namun, apa daya, kata dosen pembimbing, lebih baik gunakan sebagian rencananya, yang akhirnya membuat bunda mengandung tidak se-menyenangkan itu. 

27 Agustus 2017

Senang Karena Sirkus Pohon Bang Andrea

Layar televisi menyala-nyala, di tayangan, ada seorang pria namanya Andrea Hirata dengan rambut ikal, topi khas para seniman dan yang paling membuahkan binar di mata adalah tumpukan buku yang ada di hadapan pria itu. Senyum sumringah super lebar ikut terkembang di wajah seorang penonton yang tadinya sedang fokus mengolah data untuk bab 4 skripsinya. Tiba-tiba semua kegiatan pengolahan data berhenti. Mata si penonton itu berkilat-kilat dan sekonyong-konyongnya ia menyambar ponsel pintarnya, mencari-cari di mana bisa mendapatkan salah satu dari tumpukan buku yang berbinar-binar itu. Yak, dapat! Pesan, bayar, tunggu. Keesokan harinya, bayi mungil yang wangi itu pun datang dengan dibungkus sangat rapi dan penuh selotip.

15 Agustus 2017

Merdeka Atau Mati?

Ada sebuah negara yang merayakan kemerdekaannya untuk yang ke-72 tahun. Penduduknya bersorak-sorai, meriah, gegap gempita, tak lebih dan tak kurang dari tahun-tahun sebelumnya. Anak-anak sekolahan dan orang-orang di perkampungan, berduyun-duyun merepotkan diri dengan berbagai lomba yang diselenggarakan sejak tujuh hari sebelum hari ulang tahun si negara itu. Salah seorang penduduk, seorang gadis usia 21 tahun 6 bulan yang sedang mengerjakan skripsi, berada dengan teman-temannya yang juga seperjuangan. Mereka cuman pergi makan siang di sore hari, lalu menempuh perjalanan 30 menitan. Selama perjalanan itu, pembicaraan tentang kemerdekaan tiba-tiba tersangkut dalam salah satu topik. 

24 Juli 2017

Servis Sepeda Motor

Suatu hari, ada yang duduk-duduk di sentra servis sepeda motor selama hampir dua jam. Ia duduk-duduk saja setelah tercengang bahwa yang harus diservisnya biayanya sampai dua kali lipat dari uang yang ia bawa. Motornya sudah hampir menyentuh kilometer 10000 dan kata abang-abang tukang servis di sana, banyak pritilan yang harus diganti. Oli mesin, busi, oli shockbreaker, dan dua hal lagi yang istilahnya sulit diingat. Setelah ragu sejenak, si abang meyakinkan bahwa boleh saja kabur sebentar untuk ambil uang di rumah.

19 Juli 2017

Aku Harus Melawan

Hari itu hari raya. Hari raya yang kedua. Hari ketika yang ribut-ribut itu terjadi lagi di tempat yang sama. Tapi hari ini beda. Aku tidak lagi segentar dulu. Aku tidak lagi sekonyong-konyongnya menangis lalu buru-buru berlari menjauh dari sumber keributan. Kali ini aku hadapi semuanya sampai habis. Meski suaraku masih bergetar, tapi tidak dengan sorot mataku. Aku tatap tajam-tajam sumber keributan itu, hingga ia tak berani menatap balik. Berbeda dengan adikku yang duduk di sebelah. Ia yang terpancing keributan, tapi ia yang lebih dulu kalah oleh keributan. Matanya ditutup oleh tangan dan tangisnya langsung terisak. Tak ada kata-kata lagi darinya selain sesenggukan.