28 Oktober 2015

Ini Sumpah Pemuda, Pak Jung


Ini hari sumpah pemuda katanya. Ya tapi aku percaya saja. Percaya bahwa ya sumpah itu pernah diikrarkan, penuh semangat, menggebu-gebu, dan mewabah seperti cikunguya. Aku senang saja negara ini dari segi ketidaksadaran kolektif, punya semangat seperti kembang api yang meletup-letup. Carl Jung bilang, ketidaksadaran kolektif itu adalah hasil kreativitas dari nenek moyangmu, yang rupanya mereka turunkan padamu dan juga pada beribu-ribu orang lainnya yang lahir di sekitarmu. Lagi-lagi aku memutuskan untuk percaya. Kali ini pada apa kata Jung. 

Aku percaya saja pada sumpah pemuda, seperti aku percaya saja saat ibu bilang aku lahir di bumi yang luhur ini (padahal bisa saja ibu bilang aku anak pungut dari Kerajaan Alengka dan aku percaya). Aku ingin percaya bahwa semangat sumpah pemuda itu adalah semacam partikel seperti debu yang terbawa angin, lalu singgah dari waktu ke waktu, hingga saat ini giliran aku merasakan dihinggapi si debu. Aku ingin percaya pada kata Jung bahwa semangat itu mengendap secara tidak sadar sejak aku dilahirkan dan aku tak berdaya terhadap apa pun. Dan sekali lagi, aku memutuskan untuk percaya. 

27 September 2015

Keteraturan dan Ketidakteraturan


Mungkin sebenarnya di dunia ini tidak pernah ada keteraturan. Apakah sebenarnya yang disebut sebagai keteraturan adalah ketidakteraturan yang berulang-ulang? Tapi ketidakteraturan itu pun tidak konsisten, tidak berpola seperti yang mereka bilang, pun tidak membentuk sebuah persetujuan umum yang diiyakan semua orang. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengkotak-kotakkan dan membuat jadwal atas nama keteraturan? Apakah mereka benar-benar menginginkan untuk berada di keteraturan itu? Ataukah itu hanya kedok untuk menuju ketidakteraturan yang mereka damba-dambakan?

15 September 2015

Konsep Kebenaran dan Homo Homini Lupus


Pada beberapa hal, seseorang merasa bingung kenapa satu hal benar untuk dilakukan, tapi hal yang lain  tidak benar untuk dilakukan. Seseorang kadang menganggap, konsep benar salah akan selalu menjadi terlalu subjektif untuk dilaksanakan semua orang. Semua orang seharusnya bebas untuk melakukan apa pun yang benar menurut mereka. Kenapa harus memukul rata konsep kebenaran kepada sekian ratus kepala yang berbeda-beda? Bukankah perbedaan lahir bersamaan dengan lahirnya manusia ke muka bumi? Bukankah kita diajarkan untuk menoleransi perbedaan, termasuk perbedaan cara berpikir? Kenapa menghukum mereka yang berbeda?

14 September 2015

Pak Havigurst dan Pak Bucklew, Maafkan Saya


Maafkan saya, Pak Havigurst. Tapi saya hanya ingin bertanya, apakah kehidupan manusia memang hanya  sesempit tugas perkembangan? Bukankah menentukan perjalanan hidup seseorang, tidak semudah memprediksikan kapan hujan akan turun ketika awan kelabu sudah bergelantungan? Apakah si tugas perkembangan ini begitu berkuasa dan berwenang untuk menentukan bagaimana seorang manusia menjalani kehidupannya dari lahir hingga menemui ajal? Lalu ketika tugas perkembangan ini tidak terpenuhi, ketika si dewasa awal tidak menikah, ketika si dewasa madya tidak riweh oleh urusan rumah tangganya, dan ketika si dewasa akhir (lansia) tidak punya cucu untuk digendong, apa pun yang terjadi di tugas perkembangan selanjutnya akan mengalami kegagalan? Apakah harus begitu? Aah.. maaf, Pak, tapi saya tidak setuju.  

9 September 2015

Padahal.. Budaya Diam Saja


Ternyata budaya itu tidak sebesar yang aku bayangkan. Budaya ternyata hanyalah hasil dari apa pun itu yang ada di dalam tengkorakmu dan apa pun itu yang ada di jiwamu. Budaya tidak pernah lebih besar dari dirimu sendiri. Berlebihan orang-orang kalau bilang budaya ini punya negara itu, atau budaya itu punya negara ini. Lalu akan terus begitu, mengaku menjadi sang empunya, padahal budaya diam saja di dalam sana, tidak bergerak. Budaya diam saja, tidak pernah minta diakui atau minta ditandingkan dengan milik tetangga, tapi kamunya yang berisik, berkoar-koar, "aku punya budaya ini dan kamu nggak boleh melakukan apa pun dengan milikku ini." Jadi, sebenarnya apa yang kamu koar-koarkan itu?

27 Agustus 2015

Lahirnya Bayi-Bayi Kami



Mau berterimakasih sama setiap kepala yang ikut kebawa di JOP Express tahun ini. Kalian memang luar biasa. Mulai dari rapat jauh jauh hari, Dipi yang dengan wajahnya yang adem dan sangat rela kami tumbalkan sebagai redpel JOP Express, kepalamu sungguh adalah inti dari lahirnya bayi bayi eksemplar JOP Express itu. Aku dengan sangat rela dan suka hati ngajak kamu ke kosan biar kamu bisa mandi, Dip. Nggak tega liat kamu seharian full di depan laptop ngurusin tulisan anak-anak. Itu bajunya dibalikin jangan lupa. Hahaha. BIG APPLAUSE FOR HER. No one could be that patient and no one could ever ngeditin berita dengan kalem sambil nunjukin ekspresi yang lempeng dan teduh selain kamu, Dip. Pokoknya paragraf satu tulisan ini aku persembahkan khusus buat kamu. Another round of applause pleaseeee!!

23 Agustus 2015

Bahkan Tak Mampu Memberi Judul pada Tulisan Ini


Terkadang, seseorang merasa memiliki terlalu banyak waktu luang hingga tak tahu apakah kehadirannya di antara manusia-manusia yang lain ada gunanya. Namun juga tak jarang, seseorang merasa 24 jam pun masih sangat kurang untuk melakukan berbagai macam hal. Setiap kali aku berhenti membiarkan pikiranku melalang buana di berbagai arah dan mencoba menjadi berguna barang satu menit untuk fokus lalu berpikir, aku selalu menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak berbeda barang satu hal pun. Manusia sama-sama punya waktu 24 jam sehari untuk digunakan melakukan apa pun semau mereka, terlepas dari rutinitas, deadline, dan jadwal yang mengatur tubuh serta pikiran mereka. Tapi menjadikan setiap menit bahkan setiap detik menjadi berguna, adalah maha karya akal yang mereka buat sendiri. Hal ini yang terkadang menimbulkan perbedaan.