Fajar datang, seorang gadis bangun dari tidurnya, dengan berbagai kembang tidur yang semerta-merta langsung rontok dari kepalanya. Gadis itu menggeleng hebat saat berusaha mengingat sesuatu dari yang rontok itu, tapi tak ada satu pun yang tersisa dalam ingatannya. Ia pun menyerah. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya, sendiri, sunyi, hanya bunyi ayam yang tak henti berkokok, ia ke kamar mandi, wudhu, sembahyang, lalu berhadapan dengan laptopnya. Secara mengejutkan, hal-hal yang tadi mati-matian ia usahakan untuk diingat, kini menari-nari di kepalanya dengan liar.
17 April 2017
14 April 2017
Pressure and Pleasure
Agenda bulan ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bulan lalu. Sudah dua minggu berjalan dan sepertinya terlalu banyak hal yang harus ditulis jadi rasanya 24 jam pun tidak pernah cukup. Katanya target bulan ini mau merampungkan bab satu, dua dan tiga, sampai skala semuanya sudah jadi dan siap sebar untuk para subjek. Tapi target yang tadinya cuman seminggu, sekarang sudah molor seminggu lagi. Minggu ini yang katanya mau merampungkan bab satu sampai tiga dengan semua hasil revisi, ternyata waktunya cuman tinggal dua hari lagi. Menyedihkan. Jadi ini salahnya siapa? Salahnya waktu.
10 Maret 2017
Yang Senior Pamit
Yang senior harus pamit demi mencapai gelar sarjana. Maka ia tinggalkanlah sebuah organisasi yang katanya pers kampus yang di dalamnya ada banyak bocah cilik minta dikasih makan ilmu-ilmu soft skill yang katanya nggak ada di kelas. Yang senior ini pun akhirnya menghirup udara bebas setelah tiga tahun terkekang dalam belenggu tugas-tugas keorganisasian yang lumayan bikin tergopoh-gopoh. Belenggu yang malah bikin si cabe senior ini menangis bombay seperti anak ayam saat harus berpisah dengan anak-anak ayam yang lain.
Undur-Undur
Pengerjaan skripsi beberapa hari belakangan ini sepertinya tidak ada perkembangan. Gitu gitu saja. Tidak maju maju seperti undur-undur. Itu lho, hewan yang merasa hidupnya sangat berfaedah hanya dengan berjalan mundur. Berguling kesana kemari dari matahari terbit sampai terbenam lalu terbit lagi. Hingga akhirnya mahasiswa tuek ini sampai pada kesimpulan bahwa hidupnya kurang lebih seperti undur-undur.
19 Februari 2017
Kenapa Tidak Boleh Kasihan
Sudah lama ditulis. Tertumpuk di antara tulisan-tulisan aneh lainnya.
Pagi itu ia bertanya satu hal yang tidak mampu
kujawab. Meski memang sebagian besar pertanyaannya tidak terjawabkan, tapi yang
satu ini adalah yang paling di luar dugaan. Sebagian besar ucapannya tidak
pernah ada dalam daftar kata-kata di kamusku, tapi ia mencekokinya ke dalam isi
kepalaku sampai aku berpikir lalu menyimpan kata-kata itu dalam daftar tunggu. Kali
ini ia bertanya, “aku harus ngapain biar kamu nggak jauh dari aku?” Tadinya aku
ingin jawab, “enggak ada satu hal pun yang menjamin aku bakal deket sama kamu
terus dan begitu pula sebaliknya. Kalau aku ingin pergi maka apa pun yang
terjadi, aku akan tetap pergi. Jika aku memilih tinggal, maka semesta akan
menurut dan membiarkanku tinggal.” Tapi aku takut ia tak mengerti lalu salah
paham, sedangkan aku tidak bergairah untuk menjelaskan panjang lebar saat itu,
jadi kupilih untuk diam saja. Lebih baik. Bikin ia penasaran. Biarkan ia
berpikir aku tidak akan punya usaha untuk menjaganya di dekatku. Biarkan ia
berpikir sampai lelah. Aku egois. Memang.
Bingung Tiada Henti
Sepasang sejoli. Seorang laki-laki dan perempuan. Mereka duduk berdua dengan dua piring ayam tepung punya Chaki dan dua gelas minuman yang banyak es batunya. Mereka duduk bersebelahan, tapi pandangan mereka ada di mata satu sama lain. Hanya di situlah mata mereka berada. Tidak ada orang lain, tidak ada para pelayan berbaju merah yang lalu lalang di sekeliling mereka, tidak ada pengunjung lain yang juga duduk di sekitar mereka, tidak ada bunyi musik dari radio yang speakernya super nyaring. Rasanya yang ada hanyalah mereka berdua. Penuh senyum dan penuh pandangan. Mereka bilang itu cinta. Tapi aku yang melihat, bilang bahwa entah itu cinta atau bukan.
13 Februari 2017
Semoga Tuhan Mendengar
Aku baru sampai Semarang dan langsung sakit esoknya. Demam, ditambah flu dan batuk yang terus menerus. Tadinya kupikir aku baik-baik saja, tadinya kupikir malam ini akan segera sembuh. Tapi rupanya tidak. Aku masih demam, masih batuk-batuk dan masih penuh ingus. Namun Tuhan berbaik hati padaku. Hari itu dikirimkan-Nya seorang penjaga untuk hariku yang sakit. Dikirimkan-Nya seorang yang berjaga saat aku terjaga, seorang yang berjaga saat aku tertidur. Seorang yang entah apa yang ia lakukan, tapi setiap kali sadar, ia ada di sana.