14 Juni 2016

Berhenti Bertanya-Tanya



6 Ramadhan 1437 H

Hari ini bunga-bunga itu bermekaran lagi. Tetesan air yang menyuburkan dan menyehatkan, membuat si bunga-bungaan tumbuh sesuka hati mereka sampai si empunya terpapar keindahan bunganya terlalu sering. Hari ini si empunya pergi bersama bunganya, dari sore hingga malam. Dari obrolan sehat jogging di Stadion, sampai obrolan tentang nggak papa suka sama brondong di Fifty Fifty. Dari obrolan si mantan gebetan yang sudah punya pacar, sampai permintaan untuk lahiran normal (entah anak siapa yang kami bicarakan).

Rumahku Begitu Dekat



5 Ramadhan 1437 H

Hari ini giliran buka bersama saudara satu daerah. Menyempatkan diri untuk singgah di asrama setelah rapat yang cukup menguras pikiran. Kebahagiaan lainnya, terpujilah Allah Tuhan semesta alam yang menciptakan waktu makan untuk beberapa kepala berkumpul lalu tertawa-tawa terlampau bahagia. Maha Suci Allah yang menciptakan bulan Ramadhan untuk orang-orang yang tidak punya waktu berkumpul untuk sekedar makan, lalu jadi bisa makan bersama. Menyempatkan waktu, saling mengenal, didatangi kebahagiaan tanpa perlu mencari. Antusias terhadap banyak hal, menyambut yang akan datang dengan suka cita, lalu membahas dengan suka cita lagi. 

12 Juni 2016

Because It Contains Happiness



4 Ramadhan 1437 H

Hingga hari keempat puasa ini, aku selalu menghabiskan waktu buka puasa bersama teman-teman. Kebersamaan bersama orang-orang yang tadinya asing, kebersamaanya yang tidak pernah kusadari bisa semembahagiakan ini. Aku tidak pernah tahu bahwa sekedar perbincangan sederhana selepas berbuka, lalu tertawa seperti orang gila, akan membuat entah apa pun itu yang berdegup di dalam diriku, melompat lebih tinggi seperti overdosis pil kebahagiaan. 

11 Juni 2016

Potensi Bibit Lamaku



3 Ramadhan 1437 H

Khatib tarawih malam ini, tidak semembosankan khotib tadi malam. Isi ceramahnya lebih menarik perhatianku daripada isi ceramah khotib malam sebelumnya. Ia bicara tentang potensi dan kemampuan. Dua kata itu. Diulang-ulang dari awal sampai akhir, dari pembuka sampai penutup. Aku tidak paham maksudnya sampai ia tiba pada kalimat tentang kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Aku baru mengerti ketika ia tiba pada penjelasan tentang menuntut ilmu sampai negeri Cina dan tingkatan taqwa orang-orang yang berilmu. Intinya bukan sekedar tentang ajakan menimba ilmu lalu hasil timbaan itu digunakan untuk hal-hal yang memberi manfaat. Tapi tentang menumbuh suburkan apa yang sudah ada di dalam diri setiap ubun-ubun. 

8 Juni 2016

Menjadi Tua dan Ketidakterbatasan



2 Ramadhan 1437 H

Tarawih. Seperti malam-malam Ramadhan lainnya. Berjumpa dengan orang-orang, jalan dari kosan ke masjid, memburu pahala yang tidak ada di hari lain, duduk mendengarkan ceramah yang setiap tahun selalu kudengar. Isinya serupa, mirip, intinya sama: mengajak pada kebaikan, mengingatkan untuk tadarus, solat sunah, sedekah dan amalan-amalan lainnya. Tapi aku bosan, perhatianku teralih pada seorang nenek di sebelahku. Tubuhnya diselimuti mukena putih, namun aku bisa melihat nadi-nadi yang menyembul dari tangannya. Diam-diam kuamati wajahnya yang mungkin 40 tahun lebih tua dariku. Tanpa sadar aku tersenyum. Tangan dan wajahku. . akan menjadi seperti miliknya.

Mengapa Bertanya?



1 Ramadhan 1437 H

Hari pertama puasa tidak panas, tapi hujan. Deras sekali. Orang-orang itu berteduh di bawah jembatan. Berjejer seperti itu adalah tempat berteduh yang paling menyenangkan, memarkir kendaraan sambil melihat orang yang lalu lalang dengan jas hujan mereka. Lalu aku bertanya, mengapa mereka tidak bawa jas hujan? Mengapa dari sekian banyak tempat berteduh mereka memilih bawah jembatan? Tapi kemudian aku berhenti bertanya-tanya. Tersadar bahwa aku juga bagian dari orang-orang yang dipertanyakan oleh orang lain. Tersadar bahwa dari sekian hal yang aku mengerti, ada sekian hal di luar sana yang tidak kumengerti. Tersadar bahwa hal yang sangat masuk akal bagiku mungkin tidak bagi orang lain. Dan aku adalah bagian dari tanda tanya itu. Bagian dari sekumpulan orang yang seragam, orang yang sama-sama lalu lalang di jalanan dengan jas hujan dan kaca helm yang tertimpa titik hujan bertubi-tubi. 

15 Mei 2016

Forgiving


Aku pikir aku mengerti, ternyata tidak sama sekali. Aku pikir aku bisa bertanya lalu mengobservasi dan mengerti segalanya, tapi ternyata tidak sama sekali. Aku berusaha, pura-pura bijak, tidak men-judge, mendengarkan dengan tidak sekedar mendengar, namun rupanya aku tidak mengerti juga. Terkadang aku membangun tembok empati yang ketinggian agar bisa membayangkan menjadi dirinya, tapi aku takut bayanganku dibilang sok tau, jadi kuputuskan untuk benar-benar tidak mengerti. Aku ingin berpikir dengan caranya berpikir, namun aku tidak tahu caranya mewujudkan keinginan tersebut kecuali isi kepala kami benar-benar ditukar. Aku ingin merasakan seperti caranya merasa, melihat orang lain seperti caranya melihat, tapi sama saja, aku tidak dapat benar-benar mengalaminya kecuali perasaan dan pandangan kami ditukar.