11 Juni 2016

Potensi Bibit Lamaku



3 Ramadhan 1437 H

Khatib tarawih malam ini, tidak semembosankan khotib tadi malam. Isi ceramahnya lebih menarik perhatianku daripada isi ceramah khotib malam sebelumnya. Ia bicara tentang potensi dan kemampuan. Dua kata itu. Diulang-ulang dari awal sampai akhir, dari pembuka sampai penutup. Aku tidak paham maksudnya sampai ia tiba pada kalimat tentang kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Aku baru mengerti ketika ia tiba pada penjelasan tentang menuntut ilmu sampai negeri Cina dan tingkatan taqwa orang-orang yang berilmu. Intinya bukan sekedar tentang ajakan menimba ilmu lalu hasil timbaan itu digunakan untuk hal-hal yang memberi manfaat. Tapi tentang menumbuh suburkan apa yang sudah ada di dalam diri setiap ubun-ubun. 

8 Juni 2016

Menjadi Tua dan Ketidakterbatasan



2 Ramadhan 1437 H

Tarawih. Seperti malam-malam Ramadhan lainnya. Berjumpa dengan orang-orang, jalan dari kosan ke masjid, memburu pahala yang tidak ada di hari lain, duduk mendengarkan ceramah yang setiap tahun selalu kudengar. Isinya serupa, mirip, intinya sama: mengajak pada kebaikan, mengingatkan untuk tadarus, solat sunah, sedekah dan amalan-amalan lainnya. Tapi aku bosan, perhatianku teralih pada seorang nenek di sebelahku. Tubuhnya diselimuti mukena putih, namun aku bisa melihat nadi-nadi yang menyembul dari tangannya. Diam-diam kuamati wajahnya yang mungkin 40 tahun lebih tua dariku. Tanpa sadar aku tersenyum. Tangan dan wajahku. . akan menjadi seperti miliknya.

Mengapa Bertanya?



1 Ramadhan 1437 H

Hari pertama puasa tidak panas, tapi hujan. Deras sekali. Orang-orang itu berteduh di bawah jembatan. Berjejer seperti itu adalah tempat berteduh yang paling menyenangkan, memarkir kendaraan sambil melihat orang yang lalu lalang dengan jas hujan mereka. Lalu aku bertanya, mengapa mereka tidak bawa jas hujan? Mengapa dari sekian banyak tempat berteduh mereka memilih bawah jembatan? Tapi kemudian aku berhenti bertanya-tanya. Tersadar bahwa aku juga bagian dari orang-orang yang dipertanyakan oleh orang lain. Tersadar bahwa dari sekian hal yang aku mengerti, ada sekian hal di luar sana yang tidak kumengerti. Tersadar bahwa hal yang sangat masuk akal bagiku mungkin tidak bagi orang lain. Dan aku adalah bagian dari tanda tanya itu. Bagian dari sekumpulan orang yang seragam, orang yang sama-sama lalu lalang di jalanan dengan jas hujan dan kaca helm yang tertimpa titik hujan bertubi-tubi. 

15 Mei 2016

Forgiving


Aku pikir aku mengerti, ternyata tidak sama sekali. Aku pikir aku bisa bertanya lalu mengobservasi dan mengerti segalanya, tapi ternyata tidak sama sekali. Aku berusaha, pura-pura bijak, tidak men-judge, mendengarkan dengan tidak sekedar mendengar, namun rupanya aku tidak mengerti juga. Terkadang aku membangun tembok empati yang ketinggian agar bisa membayangkan menjadi dirinya, tapi aku takut bayanganku dibilang sok tau, jadi kuputuskan untuk benar-benar tidak mengerti. Aku ingin berpikir dengan caranya berpikir, namun aku tidak tahu caranya mewujudkan keinginan tersebut kecuali isi kepala kami benar-benar ditukar. Aku ingin merasakan seperti caranya merasa, melihat orang lain seperti caranya melihat, tapi sama saja, aku tidak dapat benar-benar mengalaminya kecuali perasaan dan pandangan kami ditukar.

21 Februari 2016

Atas Nama Sistem

Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah apakah tujuan perguruan tinggi didirikan? Apakah sekedar untuk melahirkan pekerja, profesional ataukah juga menjadi sebuah instutusi yang menjadi pusat gerakan, tempat untuk menempa calon-calon intelektual, para kreator, pembaharu, dan penyemai agen-agen perubahan? Realitas yang terjadi adalah perguruan tinggi sibuk mencetak tukang, reparator, kelompok mediokre (tanggung). Perguruan tinggi teknik, seperti ITB mencetak tukang insinyur. Universitas eks IKIP menghasilkan tukang mengajar, bukan guru intelektual.

 -Bambang Wisudo, aktivis Sekolah Tanpa Batas-

20 Februari 2016

Pranikah

Semester enam, semester ini aku mendapatkan pendidikan pra nikah. Psikologi keluarga dan psikologi seks. Saling melengkapi, saling memperkaya bayangan-bayangan tidak terbayangkan tentang pernikahan. Terutama psikologi keluarga. 7 sks, dari pukul 8 hingga setengah 2, pembicaraannya hanya tentang keluarga dan segala tetek bengeknya. Tentang betapa membahagiakannya menikah, punya anak, mendidik anak, dan mempertahankan pernikahan. Tidak terlalu berharap banyak dari mata kuliah ini. Secara tidak sadar, penyangkalan-penyangkalan tentang kebahagiaan dan manfaat pernikahan tetap berlarian di kepalaku. Apa yang disampaikan Pak Imam di depan kelas hanya aku beri anggukan lalu cengiran ragu dan tawa hasil ikut-ikutan dari teman-teman. Bilang aku skeptis. Silakan. Mungkin aku memang skeptis. 

19 Februari 2016

20

Tadinya ada yang berjanji tapi mengingkari, janji pada diri sendiri padahal. Lain dengan janji kepada orang lain. Entah mengapa orang yang ini merasa lebih baik menyakiti dirinya sendiri daripada menyakiti orang lain. Mungkin pikirnya, karena lebih mudah minta maaf pada diri sendiri daripada minta maaf pada orang lain. Orang ini pun beranjak tua. Bukan, bukan dewasa. Belum dewasa. Ia masih kekanakan, usianya 20, tapi rasanya ia masih 11 tahun. Karena ia masih seenaknya melanggar apa yang ia buat sendiri, membuat janji-janji baru hanya untuk dilanggar lagi, begitu seterusnya hingga tak terasa 12 bulan lagi ia akan berusia 21. Lalu terulang lagi hingga ia 22 tahun dan seterusnya. Lucu. Tentu saja ia tidak mau seperti itu sepanjang hidupnya. Ia hanya tidak tahu harus mulai kapan.