17 Januari 2016

Tidak Ada Intinya


Kalista, Sophi, Salsa, Lianda dan Raisa. Empat dari lima manusia itu sudah menjadi gadis, satu lagi masih kecebong yang menggeliat di genangan air. Gadis-gadis itu berkumpul pada Sabtu malam, sebelum dikalahkan waktu pada Minggu, karena salah satu dari mereka akan kembali pergi ke perantauan di kota kabupaten. Kami diantar seorang om yang sudah kami anggap sebagai ayah sendiri. Seorang om yang rela melaju sekian belas kilometer untuk mengantar jemput gadis-gadis yang ingin gaul ketawa ketiwi itu. Seorang om yang sejak 19 tahun yang lalu sudah sering mengajak naik monyet-monyetan yang bergoyang-goyang dan mengambung-ambung tubuh mungil keponakannya ke angkasa. Ya, kami diantar jemput om itu. Pesan segala macam pizza, green tea banana, green tea lychee, segala macam rupa, dengan gratis. Dialah laki-laki ke dua setelah ayah yang paling kusayang. Lianda bahkan ingin menjadi pacarnya.

Aku akan membicarakan tentang om itu.. 

11 Januari 2016

Aku Ingat Hari Ini Senin



Pagi ini tampak lebih menyegarkan dari pada pagi pagi yang lain. Rupanya hari ini Senin. Hanya tiga hari sebelum terbang ke pulau seberang untuk kembali bersama separuh hati yang tercecer di sana, separuh kebahagiaan yang tertinggal di sana. Tanpa sengaja, tidak disengaja, hanya saja aku selalu lupa membawa separuh hati dan kebahagiaanku dari tempat itu. Lupa bahwa kebahagiaan itu seharusnya seratus persen sehingga tidak ada ruang untuk rasa rindu yang lebih sering menyiksa daripada membahagiakan.

5 Januari 2016

2016


Hidup bukan tentang seberapa banyak pundi-pundi di saku celana dan baju. Bukan pula tentang seberapa banyak orang yang dijadikan teman hanya untuk ditinggal pergi. Apalagi tentang menginjak kepala orang lain yang belum tentu lebih hina dari yang menginjak kepala.

Hampir dua puluh tahun, hidup seorang gadis sudah berlangsung sejauh itu, tapi bisa saja ia egois lalu bilang seenaknya hidupnya sia-sia. Bisa saja ia sombong, lalu berhenti memberi nilai pada hidup. Pikiran-pikiran seenaknya berkeliaran seperti id yang selalu berkonflik dengan superego. Maka dari itu, tahun ini, gadis hampir dua puluh tahun itu, memutuskan untuk berkongkalikong dengan ego-nya untuk mendamaikan id dan superego. Jari-jarinya berlarian, menuliskan kata-kata di bawah ini.. 

31 Desember 2015

Year End Posting


Udah mau tahun baru lagi aja. Waktu yang larinya kecepetan atau aku yang engga lari-lari? Last year new year eve, rame-rame nongkrong sama ayah sama Opi di Simpang Lima. Dua tahun lalu, tahun baruan di kosan sendiri like.. literally dan itu mati lampu. Tahun baruan kali ini almost exactly the same kayak dua tahun lalu. Cuman bedanya ini lagi engga mati lampu aja. Tahun baru, engga tau suppose to be happy atau sedih atau in between. Tapi engga ngerasa apa-apa. Oke, karna I'm sick of ngegombalin diri sendiri tentang resolusi-resolusi yang cuman anget di awal dan finally menguap in a month. 

11 Desember 2015

Senang Saja


Gojek. Akhir-akhir ini aku selalu menikmati mengamati para pengemudi Gojek yang sering lalu lalang di Tembalang dan sekitarnya. Bahkan tadi sore, seorang pengemudi Gojek, mampir di Hangiri Sushi membeli pesanan untuk pelanggannya. Menghitung lembar demi lembar duit lecek yang keluar satu per satu dari kantong jaket Gojeknya. Bapak itu harusnya lelah. Tapi ia tidak membuat orang yang melihatnya ikut lelah. Ia membuatku nyengir (percayalah aku mengetik sambil nyengir). Harusnya bapak itu kepayahan, mungkin ia sudah mondar mandir berbagai tempat. Entah ia sudah makan apa belum. 

5 Desember 2015

Si Satu yang Mengajarkan


Lalu bagaimana dengan nasib satu yang sudah hampir digantikan oleh dua? Nasib satu yang akan segera ditinggalkan si empunya, setelah sepuluh tahun bersama? Satu pasti sangat bahagia selama ini. Ia bahkan membawa si empunya bepergian ke negeri orang. Ia membawanya ke perguruan tinggi yang bagus, dengan fakultas yang menyenangkan. Ia membawanya bertemu orang-orang yang memberi makna. Ia membawanya dari anak-anak menjadi remaja, dan mengantarkan si empunya menuju dewasa. 

Si Dua yang Menunggu Lama


Sepertinya si dua sudah menunggu lama sekali
Untuk berada di depan
Untuk bersanding bersama si nol
Nol yang sepuluh tahun lalu bersanding dengan satu

Kepalaku yang kedua akan tumbuh. Tahun yang berulang untuk mengubah angka satu menjadi dua. Si angka dua yang nyengir bahagia karena berhasil mengenyahkan si satu, lalu dia bersanding bersama si nol yang sepuluh tahun lalu sempat bersanding dengan si satu. Tapi seharusnya si dua akan segera berbaikan dengan si satu. Karena tak lama kemudian, dua belas bulan kemudian, si dua di depan ini akan bertemu dengan si satu. Bersandingan, bersebelahan. Seperti mereka dulu pernah bersama, tapi dengan satu di depan. Kali ini giliran si dua. Tapi si dua dan nol akan mulai dulu, satu harus menunggu sebentar. Iya. Sebentar saja.