5 Desember 2015

Si Dua yang Menunggu Lama


Sepertinya si dua sudah menunggu lama sekali
Untuk berada di depan
Untuk bersanding bersama si nol
Nol yang sepuluh tahun lalu bersanding dengan satu

Kepalaku yang kedua akan tumbuh. Tahun yang berulang untuk mengubah angka satu menjadi dua. Si angka dua yang nyengir bahagia karena berhasil mengenyahkan si satu, lalu dia bersanding bersama si nol yang sepuluh tahun lalu sempat bersanding dengan si satu. Tapi seharusnya si dua akan segera berbaikan dengan si satu. Karena tak lama kemudian, dua belas bulan kemudian, si dua di depan ini akan bertemu dengan si satu. Bersandingan, bersebelahan. Seperti mereka dulu pernah bersama, tapi dengan satu di depan. Kali ini giliran si dua. Tapi si dua dan nol akan mulai dulu, satu harus menunggu sebentar. Iya. Sebentar saja. 

14 November 2015

Kabur Ke Sini


Halo, selamat sore. Semarang mendung. Tapi masih panas. Selalu. Es teh dan segala teknik minum teh sambil gigit-gigit es batu adalah yang terbaik untuk mengenyahkan peluh. Entah apa yang terjadi dengan kota ini. Padahal aku nggak lari-lari cari keringat, tapi yang namanya titik air dari pelipis itu tetap saja berjatuh-jatuhan. Tidak pernah betah lama-lama ada di kota ini. Tapi selalu betah lama-lama di kamar. Entah tidur atau mengetik sesuatu pakai jari-jari yang kukunya habis aku warnai tadi malam ini. Manunggal lagi ada projek, entah gimana caranya agar badan dan pikiran ini bisa dibagi-bagi. Pikiran lagi terbagi-bagi secara tidak proporsional, ditambah faktor eksternal si cuaca mendung tapi panas ini. Sudah berdoa pada Tuhan agar cepat hujan badai saja, maksudku supaya dingin. Tapi rupanya Tuhan turunkan hujan saja, tanpa ada dingin. Dingin pun ada sesaat, lalu sepersekian detik kemudian, peluh kembali berjatuh-jatuhan. 

28 Oktober 2015

Ini Sumpah Pemuda, Pak Jung


Ini hari sumpah pemuda katanya. Ya tapi aku percaya saja. Percaya bahwa ya sumpah itu pernah diikrarkan, penuh semangat, menggebu-gebu, dan mewabah seperti cikunguya. Aku senang saja negara ini dari segi ketidaksadaran kolektif, punya semangat seperti kembang api yang meletup-letup. Carl Jung bilang, ketidaksadaran kolektif itu adalah hasil kreativitas dari nenek moyangmu, yang rupanya mereka turunkan padamu dan juga pada beribu-ribu orang lainnya yang lahir di sekitarmu. Lagi-lagi aku memutuskan untuk percaya. Kali ini pada apa kata Jung. 

Aku percaya saja pada sumpah pemuda, seperti aku percaya saja saat ibu bilang aku lahir di bumi yang luhur ini (padahal bisa saja ibu bilang aku anak pungut dari Kerajaan Alengka dan aku percaya). Aku ingin percaya bahwa semangat sumpah pemuda itu adalah semacam partikel seperti debu yang terbawa angin, lalu singgah dari waktu ke waktu, hingga saat ini giliran aku merasakan dihinggapi si debu. Aku ingin percaya pada kata Jung bahwa semangat itu mengendap secara tidak sadar sejak aku dilahirkan dan aku tak berdaya terhadap apa pun. Dan sekali lagi, aku memutuskan untuk percaya. 

27 September 2015

Keteraturan dan Ketidakteraturan


Mungkin sebenarnya di dunia ini tidak pernah ada keteraturan. Apakah sebenarnya yang disebut sebagai keteraturan adalah ketidakteraturan yang berulang-ulang? Tapi ketidakteraturan itu pun tidak konsisten, tidak berpola seperti yang mereka bilang, pun tidak membentuk sebuah persetujuan umum yang diiyakan semua orang. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengkotak-kotakkan dan membuat jadwal atas nama keteraturan? Apakah mereka benar-benar menginginkan untuk berada di keteraturan itu? Ataukah itu hanya kedok untuk menuju ketidakteraturan yang mereka damba-dambakan?

15 September 2015

Konsep Kebenaran dan Homo Homini Lupus


Pada beberapa hal, seseorang merasa bingung kenapa satu hal benar untuk dilakukan, tapi hal yang lain  tidak benar untuk dilakukan. Seseorang kadang menganggap, konsep benar salah akan selalu menjadi terlalu subjektif untuk dilaksanakan semua orang. Semua orang seharusnya bebas untuk melakukan apa pun yang benar menurut mereka. Kenapa harus memukul rata konsep kebenaran kepada sekian ratus kepala yang berbeda-beda? Bukankah perbedaan lahir bersamaan dengan lahirnya manusia ke muka bumi? Bukankah kita diajarkan untuk menoleransi perbedaan, termasuk perbedaan cara berpikir? Kenapa menghukum mereka yang berbeda?

14 September 2015

Pak Havigurst dan Pak Bucklew, Maafkan Saya


Maafkan saya, Pak Havigurst. Tapi saya hanya ingin bertanya, apakah kehidupan manusia memang hanya  sesempit tugas perkembangan? Bukankah menentukan perjalanan hidup seseorang, tidak semudah memprediksikan kapan hujan akan turun ketika awan kelabu sudah bergelantungan? Apakah si tugas perkembangan ini begitu berkuasa dan berwenang untuk menentukan bagaimana seorang manusia menjalani kehidupannya dari lahir hingga menemui ajal? Lalu ketika tugas perkembangan ini tidak terpenuhi, ketika si dewasa awal tidak menikah, ketika si dewasa madya tidak riweh oleh urusan rumah tangganya, dan ketika si dewasa akhir (lansia) tidak punya cucu untuk digendong, apa pun yang terjadi di tugas perkembangan selanjutnya akan mengalami kegagalan? Apakah harus begitu? Aah.. maaf, Pak, tapi saya tidak setuju.  

9 September 2015

Padahal.. Budaya Diam Saja


Ternyata budaya itu tidak sebesar yang aku bayangkan. Budaya ternyata hanyalah hasil dari apa pun itu yang ada di dalam tengkorakmu dan apa pun itu yang ada di jiwamu. Budaya tidak pernah lebih besar dari dirimu sendiri. Berlebihan orang-orang kalau bilang budaya ini punya negara itu, atau budaya itu punya negara ini. Lalu akan terus begitu, mengaku menjadi sang empunya, padahal budaya diam saja di dalam sana, tidak bergerak. Budaya diam saja, tidak pernah minta diakui atau minta ditandingkan dengan milik tetangga, tapi kamunya yang berisik, berkoar-koar, "aku punya budaya ini dan kamu nggak boleh melakukan apa pun dengan milikku ini." Jadi, sebenarnya apa yang kamu koar-koarkan itu?