Ramadhan hari keempat. Saat aku usai membasuh sekujur tubuhku dengan air hangat di pagi yang sejuk..
Mungkin aku tidak terlihat gemetar, saat ayah bilang lebaran ini ayah akan 'pulang' ke Banjarmasin. Iya, 'pulang'.. ke kota yang dulu sempat menjadi rumah bagi ayah, kota yang dulu mencatat setiap jam berapa ayah mulai mengengkol vespa-nya untuk berangkat ke kantor, kota yang dulu sempat menyaksikan konflik kecil antara aku dan temanku saat berlomba menyambut ayah yang baru pulang bekerja, kota yang dulu turut mendengar betapa lantangnya suara ayah saat menjelaskan pelajaran matematikan yang tidak aku mengerti, kota yang telah lengkap mengindra setiap peristiwa kehidupan keluarga kecil kami.
