17 Agustus 2014

Welcome to the Summer Camp


Kamis, 17 Juli 2014
 

Akhirnya, setelah 10 jam perjalanan yang lumayan meremuk redamkan tulang rusuk dan seluruh persendian, sampailah kami lima serangkai (aku, Ken, Omar, Coskuu, dan Dorka) di terminal Tuapse. Tapi, perjalanan tidak berhenti sampai di situ. Kami harus meregangkan otot-otot kaki kami agar punya cukup kekuatan melewati hiruk pikuk kota Tuapse untuk ke stasiun kereta Tuapse. Tuapse, kota kecil deket Laut Hitam, dengan fasilitas trotoar yang super lebar dan taman dengan bangku-bangku, nggak bikin kami leyeh-leyeh sejenak untuk sekedar menikmati pemandangan toko-toko kecil yang terpampang di sepanjang trotoar. Perlu aku ingatkan lagi tentang kecepatan kaki orang Rusia yang melebihi kecepatan cahaya. Katya tanpa menunjukkan tampang capek sedikit pun, melangkah dengan gagah berani sambil bantuin Coskuu geret kopernya yang segede gaban. Hingga akhirnya, sampailah kami di Stasiun Tuapse. 

16 Agustus 2014

Let's Go to Summer Camp


Rabu, 16 Juli 2014
 

Barang-barang kami, dengan koper yang seberat gambreng dan pritilan yang menggantung di tas-tas kami, akhirnya harus dienyahkan dari rumah Katya, karena akhirnya kami akan menuju ke summer camp! Tujuan utama kami melancong ke Rusia. Dengan berat hati, kami harus meninggalkan babushka yang udah kayak nenek kami sendiri, dan dadushka yang udah kayak kakek kami sendiri. Hal yang akan paling kami rindukan dari babushka adalah, ocehan dalam Bahasa Rusia-nya yang nggak kami ngerti sama sekali, tapi selalu bikin hati adem dan berasa di rumah sendiri. 
with the lovely dadushka

Bapak Israel-Indonesia


Senin, 14 Juli 2014
 

Setelah 1 jam perjalanan yang lumayan bikin mata kriyep-kriyep, akhirnya kami pun tiba kembali ke daratan. Kami pun berpisah sama yang lain-lain, tinggal aku, Ken, Coskuu, dan Katya. Matahari musim panas yang lumayan bikin klepek-klepek, membawa kami ke cafe yang jualan es krim, jus, dan cake. Kaki yang berasa hampir copot, akhirnya nggak jadi copot gegara akhirnya kami nongkrong bentar di cafe itu. Setelah beberapa saat ngobrolin hal-hal yang biasanya dirumpiin cewek-cewek, tiba-tiba seorang bapak-bapak dengan rambut setengah kinclong (baca: gundul), nyamperin aku sama Ken. Dengan mata berbinar-binar dan hati berbunga-bunga, tuh bapak menyapa kami dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku dan Ken pun terkesima. Antara percaya dan nggak sama apa yang kami dengar.   

Tapi kemudian, si bapak tetap nyerocos dalam Bahasa Indonesia, hingga akhirnya aku dan Ken pun tersadar dari ketidaksadaran kami.

Tur Sungai Don


Senin, 14 Juli 2014


Taman di pinggir Sungai Don
Pagi yang cerah dan kaki-kaki kecepatan cahaya milik Katya sudah melaju dengan gontainya dari rumahnya yang di pedesaan, naik bis menuju pusat kota Rostov. Dua cewek dari Indonesia dan satu cewek dari Turki dengan kecepatan kaki pas-pasan pun ngikutin dari belakang sambil nyuwun pangapuro ke kaki-kaki kami karena sudah memaksa mereka untuk ngikutin gaya jalannya orang Rusia. Perjuangan kami pun membuahkan hasil, akhirnya kami sampai di sebuah taman kota di pusat kota Rostov, ketemu beberapa orang exchange participant yang lain. Ada cowok dari Columbia namanya John dan udah nyelesaiin project-nya, cowok dari Mesir namanya Omar, dan satu cowok lagi dari Turki namanya John (juga). 

23 Juli 2014

Ramalan Kopi Turki dan Nasi Goreng



Minggu, 13 Juli 201414 Ramadhan 1435 H

Kopi super pahit dari Turki. Makanya dikasih permen buat ngilangin pahit
Langit bersinar dengan siraman cahaya matahari yang disertai kicauan burung dan 3 manusia (aku, Ken, dan Coskuu) yang numpang tidur di rumah seorang gadis Rusia bernama Katya, sudah bangkit dari tempat tidur masing-masing, merangsak ke dapur untuk sebuah ritual ajaib. Di hadapan kami, sudah ada secangkir kecil kopi Turki dengan beberapa bulir busa di permukaannya. Walopun sebenernya si kopi pahitnya kayak jamu temulawak yang ditaburin obat puyer paracetamol, bagian menariknya adalah pas si kopi udah habis, dan menyisakan sisa kopi dengan bentuk abstrak di dasar cangkir. Si gadis pembuat kopi, Coskuu, duduk tegak dengan tampang songongnya dan menggenggam sebiji cangkir yang kopinya udah habis diminum. 

19 Juli 2014

Host Family, Yeaay!



Sabtu, 12 Juli 201414 Ramadhan 1435 H


Lapangan olahraga dari lantai 8
Dapur di asramanya Fadis
Matahari bersinar dengan cerahnya, angin sepoi bikin hijabku berkibar-kibar (tinggal dikasihin tiang aja udah jadi bendera), kakiku sudah mulai lepas dari tempatnya bertengger, dan punggungku sudah jadi selemas agar-agar. Pas aku liat ranjang dengan guling super empuk di kamar Fadis, jendela yang sedikit kebuka dengan pemandangan lapangan basket dari lantai 8, dan nyanyian burung-burung di tengah senyapnya asrama itu, satu-satunya hal yang pingin aku lakukan (tapi mustahil) adalah teriak, “Wohoooo!! Akhirnyaaa beneran nyampe Rusiaaaa!!!” Tapi, karena tuh cowok kayaknya nggak bisa berekspresi selain -___- jadi aku nggak mau mengganggu ketenangan hidupnya dengan teriakan sarap semacam itu. Walaupun mulutnya agak susah mangap, tapi dia sebenernya baik, he lent me his bathroom, bed, kitchen, and balcony. But why didn’t you lend me your smile, dude? Why.. oh why??

Welcome in Rostov!



Sabtu, 12 Juli 2014—14 Ramadhan 1435 H


Setelah perjalanan 20 jam dari tanah air dan sempet sahur di pesawat pake Kit Kat yang katanya nolong saat mulai lapar, akhirnya aku sampai di kota tujuan, Rostov. Di bandara Rostov, ada cowok bawa kertas dengan tulisan AIESEC. Mataku berbinar-binar dan senyum sumringah terpancar dengan cerahnya dari wajahku yang udah nggak ada bentuknya itu. Okay, I was expecting that he would be saying like, "Hi, Kalista. How do you do? How was your trip? Let me help you bringing your bag." Tapi setelah momen senyum-senyuman kemudian, yang terjadi adalah...... krik....krik....krik...... *jangkriknumpanglewat*.