Kamis, 17 Juli 2014
Akhirnya, setelah 10 jam perjalanan yang lumayan
meremuk redamkan tulang rusuk dan seluruh persendian, sampailah kami lima
serangkai (aku, Ken, Omar, Coskuu, dan Dorka) di terminal Tuapse. Tapi,
perjalanan tidak berhenti sampai di situ. Kami harus meregangkan otot-otot kaki
kami agar punya cukup kekuatan melewati hiruk pikuk kota Tuapse untuk ke
stasiun kereta Tuapse. Tuapse, kota kecil deket Laut Hitam, dengan fasilitas
trotoar yang super lebar dan taman dengan bangku-bangku, nggak bikin kami
leyeh-leyeh sejenak untuk sekedar menikmati pemandangan toko-toko kecil yang
terpampang di sepanjang trotoar. Perlu aku ingatkan lagi tentang kecepatan kaki
orang Rusia yang melebihi kecepatan cahaya. Katya tanpa menunjukkan tampang
capek sedikit pun, melangkah dengan gagah berani sambil bantuin Coskuu geret
kopernya yang segede gaban. Hingga akhirnya, sampailah kami di Stasiun Tuapse.


