15 Agustus 2021

Second Chance

One day, I was in the TV room, a place where I usually escape from the boredom of my room, staring at my phone, at the deadline of an application for something that potentially makes me better at what I do now, as a psychology student. It was a day late. The deadline was yesterday. I was hesitant about whether or not I should submit my CV anyway, with the assumption that no one cares if I'm late for just one day. The hesitation led me to not submitting it that day.   

The following day, I found myself staring at the same announcement. It was still there, at exactly the same place as it was yesterday. Today, I am two days late. Nothing was new in the WhatsApp group at where the announcement is. Nothing. None. I assumed whoever is in charge of this program, has not even checked her email, where the applicants submit their high hopes to learning some more during the summer break. 

"Okay, then," I decided. 

All it took was just sending my CV and that's all. Maybe a few words of apologies and some more requests to consider accepting my application despite me sending it two days late. I checked my one-paged CV. Everything I wrote was perfect. I attached it to my email and wrote the most flattering body of email, asking sincerely for the recipient to give this really eager-to-learn student and let her learn, as to how everyone in the university should do for their students. 

I clicked on the send button and it was sent to the air like a balloon. My heartbeat was so freaking fast, my hands were sweating, but I was so relieved that I did what I just did: asking for a second chance. Something that I wouldn't be able to do so bravely in the past. By past, I mean two years ago. 

For as long as I can remember, I've always been a girl who is afraid of everything. I'm afraid of failing, of being seen failing, of not giving my most perfect work, and of people. The fear that I have usually depended on the situation I'm facing. Each fear will take turn sabotaging my mind and finally make me feel like I'm not enough in every possible circumstance. 

But today, that day, I was not that girl anymore. I finally am the girl that I've never imagined I would ever be. I was brave and did something out of bravery. I took opportunities because I am willing to move forward, instead of being afraid if I'm not moving forward. 

Once I clicked that button, I stared at the white wall underneath the hanging TV, I stared at one specific spot like it was a light from heaven, and there was when I had my mind blown. 

"You did it," I whispered to myself. "You really did it," I whispered some more. 

For the first time in my 25 years of life, I did something that I truly see as "something". It is "something" not because I achieved that straight-A at school, nor because I contribute important works to the world of science or whatever that the majority of people would name as "something". But it is more of "something" that only I myself can experience, "something" that only me can tell the difference. 

A week later, after worrying whether or not anyone found my email, I received an invitation to a WhatsApp group. A group where all the applicants of that project gathered. I became part of the team.

That was when I realized, that the "something" that everyone has been talking about all the time, is actually just a bonus from the real "something" that I've achieved within myself. From this now on, I can imagine myself being at any worst-case scenario and not being afraid anymore. 

8 Juli 2021

Untuk Gina

Seorang kawan kehilangan ibunya. Tadi malam ia mengirim pesan singkat-singkat di grup, mengabari bahwa ibunya kritis. Kuduga saat itu ia duduk di dekat ibunya, menangis tersedu-sedu bersama keluarganya, sambil gemetar menggenggam ponselnya. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia memberi kabar pada kami. Kubaca pesannya berkali-kali. 

Ibu nggak ada. Mohon doanya.

Tak berubah. Kecuali, kata-kata nggak ada punya makna lain. Tapi tidak kutemukan makna lain. Maknanya sama, hilang, tidak di sini, tidak dalam keberadaan, dan tidak-tidak yang lain. Untuk sepersekian detik aku masih menyangkal bahwa dua kata itu hanya itu maknanya, sebelum kemudian kuketik kata-kata bertubi-tubi menunjukkan belasungkawa, beberapa detik ragu, kubaca lagi pesannya, kucari lagi maknanya, kuhapus pesanku. 

Seorang kawan terlebih dulu mengirimkan belasungkawanya. Mau tak mau aku harus percaya makna dua kata itu. Si kawan itu memaknainya serupa. Kutulis lagi pesanku, lalu kukirimkan.
 
Selepas itu, aku tidak bisa bicara lagi, tak bisa menambah pesan-pesan penyemangat lagi. Kawanku baru saja kehilangan ibunya. Ia tidak butuh pesan-pesan penyemangat. Ia butuh berbelasungkawa, ia butuh bersedih, menangis sepilu-pilunya, memeluk tubuh ibunya yang masih hangat, dan menerima semuanya sambil menyangkal semuanya. 

Aku tiduran di ranjang, menerawang ke luar jendela, malam yang hening dan sunyi di sini. Kulihat ia ada di sana, di malam yang berbeda, yang panjang dan pilu, yang jauh dari hening dan sunyi. 

Pukul 22.00

Setengah jam setelah kuterima pesan dukanya. 

Esok ia akan bangun dan menangis. 

Ibu nggak ada. 

Ia akan mengulang itu pada dirinya sendiri. 

Lusa, ia akan bangun, membisikkan hal yang sama. Lama ia akan bangun tidur begitu. Ia akan menerima dan menyangkal. Namun, ia percaya Tuhan telah mendekap ibunya. Tuhan telah membawa ibunya pada kehangatan yang telah ia dan keluarganya berikan. 

Ia tahu hari-hari selanjutnya mungkin akan sama memilukannya dengan hari ini, tapi mungkin pada hari-hari selanjutnya ialah yang akan semakin kuat.

29 Mei 2021

Lepas Jilbab

Malam itu, aku mengaku pada Ibu bahwa aku melepas jilbab. Ibu menangis dramatis. Tangisku kutahan tapi tidak berhasil. Adikku ikut campur. Ia membelaku. Aku yang tadinya hanya ingin mendengarkan, jadi ikut bicara membela diri. 

Kusampaikan betapa menderitanya aku selama ini dan betapa tidak tahunya Ibu tentang penderitaanku selama ini. Ibu terheran-heran. Bagaimana mungkin anak perempuan sulungnya yang pintar, cantik, solehah dan patuh pada orang tua ini menderita. Stres. Depresi. Apa mungkin? Tidak masuk akal! 

Aku dituduh membual. Aku dituduh membuat-buat. Mentang-mentang aku kuliah di psikologi dan sedang kuliah profesi, jadi bisa tiba-tiba mencari pembelaan lewat keilmuanku. Tentu saja aku tidak membual. Orang macam apa yang mau menderita hanya untuk membual. 

Aku menangis, tak tahan disalah-salahkan terus. Aku menangis, karena yang kutakutkan terjadi: tidak ada yang percaya apa yang kualami. Adikku berdiri, berjingkrak-jingkrak sambil berteriak-teriak. Ia menangis untuk membelaku mati-matian. 

"Sudah, Bu. Kasihan dia." Begitu katanya. Nadanya tinggi, tangisnya meluap-luap. "Sekarang dia mencoba untuk kasih tahu Ibu apa yang dia pingin. Biarkan dia dengan keinginannya."

Ibu menyahut dengan nada tak kalah tinggi. "Apa salah Ibu kaget? Apa salah selama ini Ibu menjadikan kamu anak yang pintar? Salah Ibu?"

Tak heran jika Ibu kaget. Aku sangat maklum. Aku telah menjadi anak kebanggaannya selama ini. Tak heran juga aku tidak pernah cerita apa-apa pada Ibu. Aku tidak ingin Ibu tahu bahwa aku tidak baik-baik saja. 

Keputusanku lepas jilbab ini tidak berdiri sendiri. Ia bukan keputusan yang bisa serta merta dilihat begitu saja lalu dinilai begitu saja. Alasan dari suatu keputusan tidak dapat dicerabut begitu saja dari kejadian-kejadian lain dalam kehidupanku. Lepas jilbab itu sendiri pun tidak dapat dilihat semata-mata sebagai lepas jilbab titik. Selesai. Salah. Dosa. Neraka. Jika memang hidup semudah itu, mengapa nyatanya tidak?

Andai memang semudah itu, tadinya hanya itu saja yang rencananya akan kuceritakan pada Ibu. Perihal itu saja. Titik. Selesai. Nyatanya tidak. 

"Ibu tahu apa tentang aku? Ibu tidak tahu apa-apa? Apa Ibu tahu aku menangis tiap malam berharap hidupku segera berakhir? Apa Ibu tahu aku membayangkan skenario-skenario kematian hampir setiap hari? Ibu tidak tahu. Ibu tidak pernah tahu. 

"Apa Ibu tahu aku tidak pernah suka belajar? Aku tidak suka menanti-nanti setiap malam minggu hanya untuk menunggu diperbolehkan menonton televisi. 

"Apa Ibu tahu aku menyalahkan diriku atas perceraian yang terjadi antar dua orang dewasa yang kebetulan adalah orang tuaku? Aku mengandaikan jika hari itu aku tidak pulang ke rumah jalan kaki, apakah Ayah Ibu masih bersama. Aku mengandaikan jika hari itu aku pulang lebih awal, mungkin Ayah Ibu akan masih bersama. Apa Ibu tahu aku mempercayai itu hingga aku benar-benar diberitahu bahwa kalian bercerai bukan karena salahku?

"Apakah Ibu benar-benar membayangkan aku se-begitu hebatnya sampai Ibu dan Ayah tidak berpikir bahwa aku tidak perlu penjelasan tentang apa yang terjadi pada kalian? Apakah aku se-begitu hebatnya sampai aku tidak perlu diberi tahu bahwa aku boleh gagal? Bahwa aku bisa mencoba lagi setelah aku gagal? Bahwa aku akan tetap menjadi kebanggaan kalian meski aku gagal? Se-begitu hebatnya kah kalian menganggapku sehingga aku tidak pantas mendapatkan penjelasan kalian?

"Aku cuma anak kecil, Bu. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak mengerti apa-apa sampai ada orang dewasa yang meluangkan sedikit, dari waktu-waktu bertengkar dan bekerja kalian yang berharga itu, untuk membuatku mengerti. 

"Lalu sekarang Ibu terheran-heran kenapa aku begini? Apa yang mengherankan, Bu. Ibu, Ayah, memang tidak pernah. Tidak pernah. Duduk disampingku, menyentuh punggungku, memelukku, lalu bilang padaku bahwa ini bukan salahku! Kalian tiba-tiba saja pisah. Menjauh. Membenci. 

"Bahwa nanti, aku tidak apa-apa tidak rangking satu di sekolah. Bahwa aku tidak apa-apa tidak belajar setiap hari. Bahwa aku tidak apa-apa menyampaikan perasaan dan pikiranku. Bahwa tidak apa-apa aku tidak mengalah pada adikku. Apa kalian pernah bilang begitu? Tidak pernah!

"Lalu sekarang Ibu terkaget-kaget kenapa aku begini? Kenapa aku lepas jilbab, Ibu terkaget-kaget. Kenapa tiba-tiba aku depresi. Aku sudah besar, Bu. Aku sudah bisa membuat keputusanku sendiri. 

"Aku tidak lagi harus mengalah pada adikku. Aku tidak lagi harus belajar setiap malam, harus rangking satu, harus masuk sekolah favorit, harus pintar Bahasa Inggris, harus sekolah ke luar negeri. Akhirnya aku bisa punya keputusanku sendiri, Bu. Aku sudah sebesar Ibu dan aku bisa tidak menceritakan semua tentang kehidupanku, seperti yang Ibu lakukan padaku sejak dulu."

Lalu usailah berepisode-episode air mata yang berderai-derai itu. 

Aku bercerita pada Ibu mengenai perjalananku hingga sampai pada keputusan ini. Kuceritakan padanya tentang mimpi-mimpi dalam tidurku, tentang betapa mimpi-mimpi itu membuatku rindu padanya, tentang betapa takut aku mengecewakannya, tentang percobaan lepas pasang jilbab-ku yang sudah berlangsung lama, tentang apa yang kubaca dan siapa-siapa yang kuajak berdiskusi.

Ibu memelukku lalu menangis lagi. Ia yakin aku tetap menjadi anaknya yang baik. Ia yakin aku tidak berubah. Ia yakin aku tetap anak sulungnya yang membanggakan. 

Sejak saat itu, saat ia menelepon, ia selalu bilang, "kalau ada apa-apa, bilang Ibu, Nak. Kalau kamu kesulitan dengan kuliahmu, kalau ada orang yang menyakitimu, cerita pada Ibu. Jangan kamu pendam sendiri. Jangan kamu sakit sendiri."

Aku membeku menahan tangis. Aku bahagia memiliki wanita ini sebagai ibuku. 

19 April 2021

Mati Lampu

Waktu itu mati lampu. Sudah tiga jam tapi tidak kunjung menyala. Dengar-dengar akan sampai lima jam bahkan lebih. Batrai ponselku tidak mau hidup kalau pengisi dayanya tidak stand by. Lampu darurat yang dibelikan Ibu saat awal-awal kuliah 2013 dulu, meski sudah diisi dayanya penuh, cepat sekali redupnya lalu mati. Sumber penerangan hanya lampu darurat dari ruang televisi. Aku tidak bisa ngapa-ngapain. Batrai laptop sudah kuhabiskan untuk menulis pos ke blog ini. Itu pun mencuri internet dari  wifi asrama belakang yang sejak bangunan itu berdiri tidak pernah ikut mati lampu.

Aku cari-cari buku-buku dari rak di bawah meja. Mana tahu ada yang belum kuselesaikan, yang ternyata hampir semua. Kuambil satu novel Jane Eyre yang kupinjam entah sejak kapan dari kekasihku. Tidak kuselesaikan dan tidak kusentuh lagi entah sejak kapan. Kubuka lagi buku itu, kutarik satu kursi lesehan di ruang televisi dan kududuk di sana membaca. Aku membaca begitu saja. Tujuh puluh persen dengan Bahasa Inggris yang tidak kumengerti maknanya, tetapi aku tetap membaca, toh aku tidak bisa ngapa-ngapain juga. 

Kadang aku membaca dengan pikiran yang ikut terseret suara hujan, kadang aku membaca dengan pikiran, "apakah ada hantu di tempat ini? apakah ada pohon tumbang di suatu tempat yang jauh?", kadang aku bahkan lupa aku sedang membaca saking jauhnya pikiranku terseret. Namun, setelah beberapa lama, setelah hujan agak reda dan agak lebih banyak paragraf yang kubaca, aku sampai pada fase menikmati bacaanku. 

Ceritanya ada kebakaran di tempat Jane Eyre tinggal, yang aku bahkan tak tahu ia tinggal dimana, saking payahnya kosakata Bahasa Inggrisku. Jane diminta oleh Tuan untuk tidak memberitahu perihal kebakaran tersebut kepada pelayan-pelayan yang lain. 

Begitu ceritanya. 

Aku menikmati bacaanku bahkan berjam-jam dan satu dua hari setelah lampu tidak lagi mati. Aku sempat kembali pada dunia di depan layar ponsel dan laptop beberapa saat setelah lampu nyala, tetapi aku kembali pada buku itu. 

Tiba-tiba aku rindu pada duniaku yang tenang dan minim pilihan. Aku rindu tidak bisa ngapa-ngapain dan membaca buku fisik dengan Bahasa Inggris abad ke-17 adalah satu-satunya pilihan. Aku rindu tidak perlu menonton apa-apa, tidak perlu membalas pesan apa-apa, tidak perlu apa pun selain memasak Indomie goreng  pakai telur sambil sesekali kembali ke buku bacaan. Hanya diam, baca buku sambil sesekali mengunyah, meski tidak mengerti apa-apa dari yang kubaca. 

Aku rindu mati lampu. 

Aku pun diam-diam mengharapkan mati lampu mati lampu yang lain lagi.  

Akhirnya aku membeli Kindle :)



4 April 2021

Revelation

Dua Lima duduk di kursi di sudut restoran mungil di tepi jalan raya yang macet. Ia diam saja setelah makanannya habis. Minumannya, jasmine tea masih ada separo. Ia duduk bersama temannya, Dua Enam. Ia mulai bicara pada temannya itu. Tentang macam-macam. Salah satu dari yang macam-macam itu adalah tentang dokter-dokter bedah yang ditontonnya dari serial televisi buatan Amerika.  
 
“Ibuku tidak pernah bilang aku tidak boleh gagal,” ujarnya usia merangkum salah satu episode dari serial dokter bedah itu. “Tapi ibuku juga tidak pernah bilang aku harus berhasil. Jadi kupikir, mungkin aku tidak punya pilihan. Mungkin berhasil adalah satu-satunya pilihan, karena semua orang begitu. Semua anak pada waktu itu begitu isi pikirannya. Semua orang berprestasi yang juara olimpiade dan juara menari menyanyi di televisi itu, sama juga begitu pikirannya. Termasuk dokter bedah. 
 
“Jadi kupikir juga, kalau aku gagal, maka aku tidak masuk pilihan. Aku bukan orang yang terpilih. Aku adalah kaum yang tersesat, yang jalan salahku jadi pelajaran bagi kaum-kaum setelahku, sehingga mereka tidak perlu menjadi kaum yang tersesat sepertiku. Lalu aku percaya itu. Bukan. Bukan percaya. Percaya itu seolah aku punya.. lagi-lagi pilihan.. untuk tidak percaya. Tapi saat itu aku tidak punya pilihan. Itu adalah caraku hidup dan bertahan. Aku belajar setiap hari dan setiap malam aku menatap buku-buku pelajaranku dengan muak. Aku hanya boleh nonton televisi pada malam minggu dan minggu pagi. 
 
“Lalu, caraku bertahan hidup masih sama bertahun-tahun setelahnya. Aku tahu Ibu tidak pernah bilang begitu, tapi aku sudah terlanjur nyaman hidup begitu. Lalu aku enggan melepas cara hidupku itu. Lalu aku tidak menyadari bahwa aku menyakiti diriku sendiri. Dua puluh empat tahun hidupku hilang begitu saja. Tidak ada senang-senangnya. Senang-senang yang kuingat hanya sampai usiaku lima tahun. Setelahnya aku tidak ingat apa-apa yang menyenangkan.”
 
Dua Lima berhenti. Dua Enam masih diam, mendengarkan. Ingin bicara tapi tidak tahu apa. 
 
Dua Lima tidak ingat di luar hujan, tetapi tiba-tiba hujan sudah berhenti. Kelihatan dari dinding kaca restoran itu. Minumannya yang tadi separo sudah tinggal es batu. Dua Lima tidak lanjut ceritanya. Ia melongo pada ojek-ojek hijau-hijau yang keluar masuk restoran. Ia melongo sampai tiba-tiba ia sudah ada di luar bangunan, menengadah ke langit cerah sehabis hujan, pelangi yang menyeberang dari satu awan ke awan lainnya, dan aroma hujan yang jatuh ke tanah. Ia sudah sering melihat dan membaui hal-hal itu, tetapi, “apa bedanya kali ini?” batinnya. 
 
“Aku mau lari-lari di sini,” kata Dua Lima entah pada siapa karena Dua Enam masih di dalam. “Aku senang lari-lari. Apalagi waktu dulu masih kecil. Aku senang lari-lari dengan adikku yang gundul. Aku senang ada tanah lapang, aula besar, tangga kosong, rumah kakek, di mana aku bisa berlari mengejar dan dikejar adikku. Aku akan berlari lagi sekarang. Aku akan berlari ke mana saja dan aku tidak akan menghentikanku.” Matanya berbinar, senyumnya dari telinga ke telinga, pipinya melebar meluas, kakinya menghentak siap melaju. 
 
“Aku mau ikut.” Dua Enam tiba-tiba ada di belakangnya.  
 
Selanjutnya, mereka kembali ke dalam karena ternyata hujan lagi. Kali ini mereka lari-lari. Mereka lari di antara meja kursi restoran yang menjual kebab itu. Beberapa pelanggan memandangi mereka heran, beberapa anak kecil ikut mereka berlari, beberapa bergumam menduga mereka orang gila, pramusaji berusaha menghentikan mereka, tetapi mereka tetap lari-lari. 
 
“Aku tidak akan menghentikanku,” gumam Dua Lima sambil tetap lari-lari mengejar Dua Enam. 
 

24 Agustus 2020

The day we met

Nothing unusual on the first day we met. No sparks. No blossoms. No blushes. Nothing.

It was a sunny day in August last year. I wore my ordinary outfit, I didn’t notice what he wore, but I'm pretty sure he wore something ordinary too. It was our first day in the class. As how new things are, everything makes me excited. The new friends, new lecturers, new classroom, new subjects, the new everything. 

It was in the central library that I noticed him for the first time. He sat in the back, by himself, mentioning book titles to the librarian way in the front of the room. No one responded as no one caught his low voice. I am low-voiced myself and I know how it feels to not be listened to just because your voice is not loud enough.

Days later after the library trip, in the classroom, we were grouped together and that was how I knew his name. 

But nothing unusual on the first time we say each other’s names. No tensions. No thrills. No anticipations. Nothing. 

My days in the class didn’t last long. So did his and my other classmates’. They had to stop having real classes due to the pandemic, but for me, it was because I decided to leave. I leave the new class, new friends, new lecturers, new subjects, the new everything. They now become my old everything.

But above them all, one stays. 

He stays. 

Here’s when things become unusual. 

.

23 Agustus 2020

Berhenti

Malam itu malam pertamaku di tempat yang baru dan aku menangis. Ada Ibu menari di langit-langit, dua bocah mengelilingi tubuhnya minta peluk dan makan. 

Kemarin aku diantar kemari dengan truk bak terbuka. Barang-barangku penuh di bak, sepeda motorku yang merah jambu bersorak-sorai meski diikat kanan kirinya, aku duduk di muka. 

Bocah-bocah yang kelaparan itu menyukai kegelapan. Mereka hadir setiap kumatikan lampu kamarku. Kamarku yang baru. Kamarku yang temboknya putih, lantainya putih, jendelanya putih, pintunya putih, dan puskesmas di seberang kamar yang juga putih-putih. Aku bisa demam pagi sampai siang tanpa khawatir karena bisa langsung melarikan diriku sendiri ke sana. Lain cerita kalau demamnya datang malam-malam, terutama saat bocah-bocah itu datang bersama Ibu. Tidak ada puskesmas yang buka malam-malam. 

Sekian malam berikutnya aku masih menangis sambil terlentang. Kamarku tidak lagi baru, sudah ada satu dua tiga empat lima orang yang datang. Hanya satu yang perempuan. Sisanya lelaki minta ditemani makan, nonton film, dan jalan-jalan. 

Lagi-lagi aku kedatangan Ibu dan dua bocah, tapi mereka tidak lagi menari-nari di langit-langit, mereka duduk saja di tepi ranjangku yang baru, yang masih dibungkus plastik. 

"Aku ingin berhenti. Aku ingin pulang," kukatakan lirih.  

Manik mata mereka yang putih mungil membeku. Mereka tidak setuju. Mereka tidak ingin aku berhenti. Ibu beranjak dari tepi ranjang, duduk di kursi belakang meja belajarku, ia bicara, berbisik, sendu, "Ingat dulu Ibu seorang diri membesarkan kalian? Ingat dulu kita tinggal di tempat yang terlalu sempit untuk kalian lari-lari? Kalian senang berlari. Ibu ingat betul." Ibu berhenti, terkekeh sebentar. 

"Aku bodoh, Bu. Aku gagal. Aku tidak bisa. Aku tidak seperti teman-temanku, Bu. Mereka cemerlang, mereka bicara lantang di kelas, mereka menulis sepenuh hati, mereka akan jadi pengajar, advokat, pendeta, orang penting, orang berilmu dan terpandang. Aku tidak, Bu. Aku tidak bisa menulis, tidak bisa membaca, tidak bisa bicara, tidak punya teman. 

"Aku bodoh, Bu. Aku gagal. Aku gagal menjadi kebanggaanmu, aku gagal menjadi contoh bagi adik-adikku. Biarkan aku pulang dan menjadi pesuruhmu, Bu. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat diriku berguna, Bu. Tapi bukan di sini. Ini bukan tempatku, Bu. Aku bodoh, Bu. Aku gagal.." Aku tercekat. Kata-kataku mengambang. 

"Kaki dan tanganku tidak sekuat Ibu. Hatiku tidak setangguh Ibu. Aku tidak seperti Ibu."

Enam belas tahun yang lalu. Dua bocah perempuan. Baju mereka sama, rok mereka sama hanya beda warna, sepatu pun sama hanya beda ukuran. Ibu mereka ada di sana. Ayah mereka tidak di sana. Ayah mereka memang tidak pernah di sana. Ayah tidak pernah ada dimana-mana. Ayah menyerah pada Ibu. Ayah menyerah pada dua bocahnya. Tapi Ibu tidak. Ia tetap tegak berdiri di sana, dengan dua bocah yang menggelayut di kedua kakinya. Memberati langkahnya, menghabisi tenaganya, tapi pengharapannya tetap tegak sempurna.

"Anak Ibu pintar. Anak Ibu selalu bisa. Tidak pernah tidak." Setetes, dua tetes, tiga tetes mengalir ke pipinya. "Ibu tidak tahu anak Ibu kesusahan. Ibu tidak pernah melihat anak Ibu begini. Ibu hanya tahu anak Ibu yang rajin dan pintar. Oh, anakku.. anakku yang malang. Maafkan Ibu.. maafkan Ibu. Ibu tidak tahu anak Ibu kesusahan." 

Malam itu, delapan belas tahun yang lalu, aku terbangun. Adikku tidur pulas di sampingku. Tubuhnya sedikit lebih mungil dari aku. Rambutnya lebih sedikit dari aku. Ibu tidur di lantai, alasnya tipis, tidurnya terlentang, persis seperti tidurku delapan belas tahun kemudian. Kudengar Ibu tersedu. Tapi usiaku hanya empat tahun. Hidupku masih terlalu singkat untuk mengerti cara menangis dalam diam. 

"Baiklah, Anakku. Berhentilah, berhenti," ujar Ibu masih terisak.

Lalu aku berhenti. 

Berhenti.

.