Akhir-akhir ini, berseliweran berita bahwa Perpusnas tidak lagi mendistribusikan buku-buku gratis ke beberapa daerah karena pengurangan anggaran. Perasaan marah dan sedih campur aduk. MBG, Kopdes, korupsi; praktik-praktik jahanam yang merugikan masyarakat justru dilanggengkan. Seorang tante membagikan video seorang pejabat membagikan uang modal bagi seorang mahasiswa yang harus berjualan keliling kampus untuk membantu orang tuanya. Kubayangkan perasaan terharu, miris, bangga, kagum, yang dirasakan para penonton video itu - termasuk aku. Namun, marah pun menelisik - mendominasi. Karena si pejabat tidak punya jawaban untuk pertanyaan si mahasiswa: "bagaimana caranya agar bahan baku tidak terus-menerus naik; terutama bagi pengusaha kecil menengah seperti saya?" Entah apa yang terjadi setelah video itu - baik sangkaku adalah si pejabat pada akhirnya menjawab pertanyaan itu, lalu berkoordinasi dengan berbagai sektor dan melakukan berbagai upaya menekan kenaikan harga bahan baku bagi para pengusaha UMKM; buruk sangkaku adalah si pejabat memang tak punya jawaban: membagikan-bagikan uang - yang rupanya sudah beramplop-amplop disiapkannya untuk setiap peserta seminarnya yang cerita hidupnya terasa memilukan, mengujarkan kata-kata manis - mengalihkan perkara dari permasalahan yang sesungguhnya; adalah satu-satunya - dua-duanya - hal yang dapat dilakukannya, sehingga publik tersentuh; terenyuh; menjunjung tinggi kebaikannya; menggadang-gadangnya sebagai pemimpin berbudi yang pantas menjabat selama-selama-lama-lamanya.
Sementara di sini, di Bankstown Library, Australia, tempatku menulis; mengolah emosi: gundah, gelisah, aku bisa dengan seenaknya melihat-lihat ratusan koleksi novel teranyar terbaik terawat di rak-rak dalam gedung berarsitektur modern berlangit-langit tinggi berdinding serba kaca; meminjamnya; membacanya; mengembalikannya karena tidak suka dengan gaya penceritaan si penulis di novel itu - terlalu banyak adegan seks; dan meminjam lagi novel lain yang lebih kusukai, yang lebih sesuai dengan gaya penceritaan kegemaranku - yang juga baru kuketahui setelah sekian buku yang cocok-tidak-cocok kulahap selama masa tinggal kami di negara ini; kemewahan lainnya dari tinggal (sementara) di negara yang pajaknya kembali ke kepentingan publik alih-alih ke perut gentong para pejabatnya.
Cara para pejabat kita bekerja adalah: entah dengan berjoget ria sambil mengolok-olok rakyatnya - secara langsung di podium atau secara tidak langsung dengan menyimpan emas 74 kilogram di brankas hunian pribadi, atau dengan dengan bermain peran sebagai aktor gadungan dalam pertunjukan jual-beli kasihan demi pencitraan. Maka, senyaman-nyamannya aku oleh suasana hidup di negaraku sendiri; oleh makanannya yang paling enak di dunia; oleh keluargaku yang semuanya di sana; oleh kebersyukuran dan kecukupanku akan diriku sendiri dan situasi hidup yang kujalani selama ini, mustahil untukku tidak menyimpan kepesimisan kronis di dalam hati; mustahil untukku tidak marah, sedih, oleh kondisi negaraku sendiri yang aku tahu secara objektif sudah tidak dapat tertolong lagi. Maka, keputusanku untuk tidak punya anak menjadi semakin ajeg seiring peredaran kabar buruk yang tak ada hentinya. Itulah caraku bertahan hidup; bertahan waras: menjaga hidupku sendiri - hidup kami yang sudah terlanjur hidup ini tetap berkecukupan hingga usia kami yang sampai entah.
Setiap sesi dengan klien-klienku; yang mengeluh tentang kondisi negara ini, aku tidak bisa membantah. Aku malah ingin semakin menambahkan kedepresian mereka, karena begitulah juga yang kupikirkan. Namun, di sisi lain, mustahil untuk kita bisa hidup dengan terus-terusan terkungkung dengan pikiran yang seperti ini. Toh, memang sudah tidak bisa tertolong; toh, tidak ada yang bisa diubah lagi; jadi apa yang bisa kita lakukan itulah yang kita kendalikan - kembali lagi ke saran-saran klise dalam terapi yang itu-itu saja yang seringnya bosan - tapi memang demikianlah benar adanya - kuceramahkan di sesi-sesi dalam pekerjaanku yang mengambil untung dari penderitaan orang lain ini.
Akhir kata, negara ini tidak tertolong lagi; benar, tapi, bukan berarti aku tidak menyayanginya. Benar, tapi bukan berarti aku lantas ingin melepas kewarganegaraanku dan tinggal selama-lamanya di Australia - toh, aku sudah sedang hidup di sini (selain karena alasan-alasan praktis lainnya yang memustahilkanku untuk tinggal di sini). Benar, tapi bukan berarti aku menyetujui olok-olok Bapak Presiden yang terhormat bahwa orang-orang pintar itu kalau tidak suka ya sudah tinggal cari saja negara lain untuk tinggal. Andaikan hidup semudah itu; andaikan benar semua ini hanya permainan ular-tangga - naik, turun, lalu kita mulai lagi; andaikan benar manusia tidak berperasaan, tidak berkeinginan, tidak berpikiran, tidak berkomunitas, tidak terjerat ini-itu, tentu saran Bapak yang terhormat akan dengan senang hati saya lakukan. Namun, nyatanya tidak. Nyatanya saya terjerat sekaligus merdeka. Hidup dalam keyakinan yang baiknya kita yakini 50:50 - ceramah yang itu-itu saja dalam sesi-sesi psikoterapi pekerjaanku.
Pada akhirnya, kita akan mati dan terurai tanah; begitu pula Bapak Presiden yang terhormat. Aku bahkan tak lagi berdebar-debar; khawatir atas skenario bagaimana kematianku nanti; bagaimana negara ini kolaps. Toh, satu kenyataan itulah yang justru paling benar. Sebaik-baiknya kuusahakan menjalani hidup yang tak jelas juntrungannya ini sambil berpura-pura jadi yang paling tahu dalam sesi-sesi psikoterapi yang per jamnya kutarik uang-uang dari rekening orang-orang itu, sambil cemas pada hari-hariku cemas, sambil sakit kepala dan sakit perut pada hari-hari mendekati dan saat menstruasi, sambil bergembira; lalu tak peduli; lalu menangis; dan segala sesuatunya yang aneh-aneh dan bertolak belakang di antara waktu saat ini hingga menunggu mati.
Intinya, negara ini hebat; negara ini kusayang; tapi ini negara ini adalah segala yang tapi-tapi yang tadi sudah panjang lebar kudeskripsikan di atas.




